PALOPO — Ketua BPW KKLR Sulsel Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kericuhan dalam aksi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya di depan Kantor Perumda Tirta Mangkaluku (PAM-TM) Kota Palopo. Insiden pada 2–3 November 2026 itu mengakibatkan puluhan mahasiswa dan staf PAM-TM dilaporkan mengalami luka. Pernyataan tersebut disampaikan Hasbi dari Inggris, Selasa (3/11/2026), mewakili pengurus dan keluarga besar Luwu Raya di perantauan.
Hasbi menegaskan, persoalan pelayanan air bersih yang melatarbelakangi aksi mahasiswa adalah masalah serius yang butuh perhatian semua pihak. Namun dia menolak segala bentuk kekerasan sebagai jalan penyelesaian.
"Kami sangat prihatin. Mahasiswa adalah anak-anak kita, dan karyawan serta petugas keamanan Perumda juga saudara kita sendiri. Tidak ada yang diuntungkan ketika sesama keluarga Luwu Raya saling melukai," ujar Hasbi.
KKLR menilai keluhan warga soal kebutuhan dasar seperti air bersih mesti didengar dan dijawab dengan langkah konkret. Hak menyampaikan pendapat, kata Hasbi, tidak boleh dibalas dengan tindakan fisik.
"Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara dan harus dihormati. Keluhan soal air bersih harus didengar dan dijawab dengan langkah konkret, bukan dengan kekerasan," lanjutnya.
Organisasi yang menaungi diaspora Luwu Raya ini juga menyampaikan simpati kepada mahasiswa yang terluka dan berharap seluruh korban segera pulih.
KKLR memandang kericuhan tersebut bukan sekadar persoalan antara mahasiswa dan pihak Perumda. Peristiwa itu berpotensi mengganggu hubungan sosial antarsesama warga yang terikat sejarah, adat, dan kekerabatan.
Hasbi mengingatkan bahwa Palopo, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur merupakan satu kesatuan kultural. Perbedaan pandangan dan kepentingan dinilainya tidak seharusnya menghapus ikatan persaudaraan tersebut.
"Dalam keluarga, perbedaan pendapat boleh keras, tetapi harus diselesaikan dengan duduk bersama. Nilai sipakatau (saling memanusiakan) dan sipakalebbi (saling memuliakan) yang kita warisi dari leluhur harus hidup di saat seperti ini," katanya.
Menurut Hasbi, kedua nilai itu tidak cukup menjadi semboyan atau identitas budaya. Keduanya harus tercermin dalam sikap dan tindakan, terutama saat masyarakat menghadapi persoalan yang memicu perbedaan pendapat.
KKLR meminta informasi maupun rekaman kericuhan yang beredar di media sosial disikapi secara bijak. Penyebaran informasi yang belum terverifikasi dan komentar provokatif dikhawatirkan memperkeruh suasana serta memperlebar jarak antarkelompok masyarakat.
Organisasi ini juga mencatat bahwa manajemen PAM-TM belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Karena itu, KKLR meminta semua pihak tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum fakta terungkap secara utuh.
KKLR menghormati langkah perwakilan GAM Luwu Raya yang telah mendatangi Polres Palopo untuk menyampaikan laporan serta menjalani visum. Hasbi berharap setiap laporan diproses berdasarkan bukti, secara profesional, adil, dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Untuk membantu meredakan ketegangan, KKLR Sulsel menyampaikan enam imbauan kepada pihak-pihak terkait:
KKLR secara khusus mengingatkan bahwa kondisi kekeringan akibat El Nino dapat memperberat persoalan ketersediaan air bersih dan meningkatkan kerentanan sosial masyarakat.
"Dalam kondisi seperti ini, kita harus saling menjaga, bukan saling menyalahkan," ujarnya.