SULAWESI SELATAN — BNI membukukan laba bersih Rp 16,1 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 6,6 persen secara tahunan dan menjadi capaian tertinggi perseroan untuk periode sembilan bulan pertama. Pertumbuhan laba ditopang ekspansi kredit 22,2 persen serta penguatan dana murah yang menekan biaya pendanaan.
Paragraf pembuka: Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) BNI mencapai Rp 27,5 triliun, naik 11,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menegaskan capaian itu lahir dari disiplin pengelolaan risiko, bukan sekadar agresivitas menyalurkan kredit.
Total kredit BNI per September 2026 menembus Rp 992,5 triliun, tumbuh 22,2 persen secara tahunan. Ekspansi terjadi merata di seluruh segmen, dengan standar analisis kelayakan kredit yang ketat.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyebut strategi selektif itu mengangkat pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 basis poin menjadi 10,6 persen. "Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas," ujar Paolo.
Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) tumbuh 13,6 persen menjadi Rp 33,2 triliun. Fee-based income juga meningkat 8,3 persen menjadi Rp 13,9 triliun.
Current account savings account (CASA) BNI tumbuh 19,6 persen secara tahunan menjadi Rp 733,7 triliun. Giro BNI bahkan melesat 25,9 persen, jauh di atas pertumbuhan industri yang hanya 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI naik 120 basis poin menjadi 13,2 persen, sementara pangsa tabungan bertambah 10 basis poin menjadi 9,2 persen. Pertumbuhan tabungan perseroan sendiri mencapai 11,6 persen.
Struktur dana yang membaik membuat cost of fund turun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen. Meski begitu, net interest margin (NIM) BNI menyusut 30 basis poin menjadi 3,5 persen, sejalan dengan penurunan NIM industri akibat penyesuaian loan yield dari 7,3 persen ke 6,9 persen.
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross BNI turun dari 2,0 persen menjadi 1,9 persen. Rasio loan at risk (LaR) juga menyusut tajam dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyatakan perseroan menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit di level 3,8 persen, lebih tinggi dari rata-rata industri 3,5 persen. NPL coverage ratio tercatat 193,3 persen.
"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," kata David.
Aplikasi wondr by BNI kini dipakai 16,6 juta pengguna, tumbuh 58 persen secara tahunan, dengan nilai transaksi Rp 1.774 triliun atau naik 25 persen. Platform BNIdirect mencatat transaksi Rp 9.324 triliun, tumbuh 16 persen, dengan 293 ribu pengguna atau naik 19 persen.
Transformasi jaringan cabang lewat inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) turut mendongkrak produktivitas cabang dan penghimpunan dana murah. "Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen," tambah Putrama.
Penutup: Kombinasi kredit tumbuh dua digit, CASA yang menguat, dan NPL yang menurun memberi BNI ruang lebih lebar menghadapi tekanan margin industri perbankan. Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen serta menurunkan GWM secara bertahap mulai November 2026 menjadi faktor pendukung likuiditas perbankan ke depan.