MAKASSAR — Pembukaan Ko-Kurikuler Debat Hukum dan Konstitusi 2026 menghadirkan Group Head Hukum PT Pelindo Dr. Akhirman, S.H., M.H., Ketua Mahkamah Keluarga Mahasiswa Universitas Hasanuddin Anugra, dan Ketua LeDHaK FH Unhas Achmad Fadli. Panitia menyiapkan seluruh rangkaian sejak Juli 2026, melewati berbagai tahapan persiapan sebelum kegiatan resmi dimulai.
Kepala Sekolah Ko-Kurikuler Debat Hukum dan Konstitusi 2026, Muhammad Dzaky Pramadana, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal mahasiswa baru mengenal dunia debat. Peserta diajak memahami bagaimana argumentasi hukum dibangun, bukan sekadar dilatih berbicara di depan publik.
Menurut Dzaky, debat berkaitan erat dengan pola pikir kritis dan penerapan pengetahuan hukum secara konkret. Kemampuan berbicara menjadi bagian dari proses itu, bukan tujuan tunggal.
"Ko-kurikuler ini menjadi ruang bagi mahasiswa bukan hanya untuk memahami hukum secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berbicara di hadapan publik," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya tujuan dan komitmen bagi peserta yang ingin menekuni dunia debat. Tanpa keduanya, proses pembinaan dinilai sulit menghasilkan pendebat yang matang.
"Untuk menjadi seorang pendebat, menurut saya adalah hal yang mustahil bagi mereka yang tidak memiliki tujuan. Oleh karena itu, untuk mengalahkan kemustahilan, teman-teman harus mempunyai tujuan yang lebih besar dari diri kalian sendiri," katanya.
Dzaky juga mendorong peserta mengejar prestasi dan terus berkembang selama mengikuti rangkaian kegiatan. Komitmen menjadi kunci, baik untuk tujuan menjadi pendebat maupun meraih kemenangan dalam kompetisi.
"Teman-teman harus memiliki komitmen yang kuat. Komitmen pada tujuan kalian untuk menjadi pendebat, komitmen pada tujuan kalian untuk juara, dan komitmen pada tujuan kalian untuk sukses," lanjutnya.
Ketua LeDHaK FH Unhas Achmad Fadli menilai pembukaan ko-kurikuler bukan sekadar awal kegiatan, melainkan awal dari proses pembelajaran bagi para peserta. Proses itu mencakup pengenalan dunia debat, belajar bersama, hingga menemukan potensi yang belum disadari.
"Hari ini bukan hanya menjadi awal dari sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi awal dari sebuah proses. Proses untuk mengenal lebih jauh dunia debat, proses untuk belajar bersama, dan proses untuk menemukan kemampuan serta potensi yang mungkin selama ini belum kita sadari," ujarnya.
Achmad menegaskan peserta tidak dituntut langsung menjadi yang terbaik. Setiap mahasiswa memiliki proses dan perkembangan berbeda, sehingga keberanian mencoba dan kemauan belajar dinilai lebih penting.
"Keberhasilan adalah ketika teman-teman pulang dari proses ini dengan membawa pengalaman, keberanian yang lebih besar, kepercayaan diri yang lebih baik, serta kemauan untuk terus belajar," katanya.
Ia mengajak seluruh peserta menikmati setiap tahapan yang akan dilalui selama kegiatan berlangsung.
"Selamat belajar, selamat berproses, dan selamat menikmati setiap perjalanan yang ada," ucapnya.
Ko-Kurikuler Debat Hukum dan Konstitusi 2026 diikuti sekitar 60 mahasiswa baru FH Unhas. Kegiatan ini menghimpun dana Rp6.175.000 melalui dukungan panitia dan mitra kerja sama.
Rangkaian kegiatan ditargetkan berlangsung hingga akhir November mendatang. LeDHaK FH Unhas berharap program ini memperkenalkan dunia debat hukum kepada mahasiswa baru sekaligus menjadi ruang pengembangan kemampuan argumentasi, komunikasi publik, dan kepercayaan diri.
Bagi peserta, seluruh tahapan diharapkan menjadi bagian dari proses pengembangan diri, baik di bidang akademik maupun kemampuan berkomunikasi dan berargumentasi.