SULAWESI SELATAN — Perum Bulog memastikan pasokan beras untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan beras premium bermerek BerasKita Premium, bukan beras fortifikasi. Keputusan ini diambil agar penyaluran di lapangan lebih efisien dan tidak membingungkan petugas dapur MBG. Bulog menegaskan beras premium yang dipasok merupakan produk komersial non-subsidi yang gabahnya dibeli langsung dari petani lokal.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan perubahan skema pasokan ini mengikuti arahan Menteri Pertanian dan Menteri Koordinator Pangan. Beras premium dipilih supaya proses distribusi ke dapur-dapur MBG tidak lagi terpecah antara beberapa jenis beras. "Kalau beras MBG sesuai arahan Pak Mentan maupun Pak Menko supaya tidak terlalu memusingkan, jadi tetap menggunakan beras premium nanti judulnya, packaging-nya seperti ini," ujar Rizal di kantor Kementerian Koordinator Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2026).
BerasKita Premium merupakan beras komersial Bulog yang dibeli dengan skema non-subsidi. Artinya, Bulog membeli gabah langsung dari hasil panen petani lokal, bukan melalui mekanisme beras PSO (Public Service Obligation) yang selama ini menopang stok bersubsidi. "Jadi kalau teman-teman, yang namanya beras premium itu tidak ada subsidi ya. Jadi beras premium itu yang dibuat Bulog adalah beras komersialnya Bulog," kata Rizal.
Dari sisi kualitas, BerasKita Premium memakai standar serupa beras premium lain di pasar. Kadar pecahan atau broken maksimal 15 persen, dengan proses penyosohan hingga tiga kali pemolesan. Standar ini menjadi acuan Bulog untuk menjaga mutu sebelum beras dikirim ke dapur MBG maupun ke pasar komersial.
Pasokan beras premium ini nantinya bisa langsung dipakai untuk kebutuhan dapur program MBG. Rizal menyebut beras yang sama juga bisa disalurkan untuk memenuhi stok pasar komersial. "Ya, ya nanti beras premium itu bisa untuk dipakai untuk MBG juga," ujarnya.
Dengan skema ini, Bulog tidak perlu lagi menyiapkan jalur khusus beras fortifikasi untuk MBG. Penyeragaman jenis beras diharapkan mempercepat distribusi, terutama ke daerah yang dapur MBG-nya tersebar di banyak titik. Petugas lapangan cukup menerima satu jenis kemasan dengan merek yang sudah jelas.
Bagi petani, pembelian gabah secara komersial oleh Bulog membuka peluang penyerapan hasil panen di luar jalur subsidi. Harga gabah yang dibeli mengikuti mekanisme komersial, sehingga tidak terikat pada harga pembelian pemerintah untuk beras PSO.
Bulog menyatakan akan fokus mempercepat distribusi beras premium kemasan BerasKita Premium. Pasokan ini diarahkan untuk menopang kebutuhan pangan nasional sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat lewat Program MBG. Penghapusan skema beras fortifikasi khusus membuat rantai pasok lebih pendek dan mudah diawasi.
Perubahan ini menempatkan Bulog pada dua peran sekaligus: penyangga pangan nasional lewat stok bersubsidi, dan pemain komersial lewat beras premium non-subsidi. Keberhasilan skema BerasKita Premium akan terlihat dari kelancaran pasokan ke dapur MBG dan serapan gabah petani di musim panen berikutnya.