SULAWESI SELATAN — Lamine Yamal menegaskan pemain seperti dirinya, Pedri, dan sejumlah nama lain tetap punya percikan istimewa di tengah sepak bola modern yang kian mekanis. Gelandang Spanyol berusia 19 tahun itu mengaku menikmati setiap momen di final Piala Dunia, termasuk saat diminta bermain lebih lama oleh pelatihnya.
Lamine Yamal berbicara panjang soal cara pandangnya terhadap permainan usai Spanyol menuntaskan laga final Piala Dunia melawan Argentina. Dalam wawancara di kantor Federasi Sepak Bola Spanyol di Las Rozas, pemain Barcelona itu mengaku tak merasakan gugup sedikit pun sepanjang pertandingan.
"Kami sedang di final Piala Dunia dan saya ingin terus bermain," kata Yamal, mengulang permintaan yang ia sampaikan ke bangku cadangan. "Saya tidak pernah berpikir 'tiup saja peluitnya'. Saya menikmatinya."
Yamal menyebut Spanyol sudah yakin akan menang bahkan sebelum gol tercipta. Keyakinan itu muncul ketika Enzo Fernandez mendapat kartu merah pada menit ketiga injury time babak kedua, saat kedudukan masih 0-0.
"Kami tahu mustahil mereka mencetak gol, dan dengan bola melawan 10 pemain, sangat sulit bagi kami untuk tidak mencetak gol," ujarnya. Gol kemenangan Spanyol akhirnya lahir pada menit 106 melalui Ferran Torres, memanfaatkan umpan silang Pedro Porro yang disundul Nico Williams.
Duel satu lawan satu dengan bek lawan, menurut Yamal, lebih banyak dimainkan di kepala. Ia menyebut bek yang menghadapinya seperti robot yang sudah dibekali instruksi pelatih soal cara menghentikannya.
"Robot bisa hampir sempurna, tapi manusia punya sesuatu yang tidak dimiliki robot. Sepak bola sudah mekanis, tapi ada pemain seperti saya, Pedri, dan banyak lainnya, yang punya percikan istimewa itu," kata Yamal.
Ia mengaku banyak belajar dari video aksi Neymar, terutama gerakan khas saat pemain Brasil itu berhenti, melakukan fake, lalu bergerak ke arah berlawanan. "Saya mencoba bermain dengan lawan, memastikan mereka tidak bisa memekanisasi saya, tidak tahu ke mana saya akan pergi," tambahnya.
Pada laga final, Yamal mengubah pendekatannya di menit 60, 70, dan 80. Alih-alih menggiring bola cepat melewati bek, ia sengaja memperlambat tempo agar Alexis Mac Allister sempat mendekat, sehingga Porro bisa maju dan ia melepas bola ke belakang.
Yamal mengakui Spanyol tahu Ferran Torres butuh gol setelah tampil kurang optimal sepanjang turnamen. "Semua orang butuh gol di final Piala Dunia. Kalau Unai Simon yang mencetak gol, luar biasa juga," katanya sambil tertawa.
"Saat bola masuk, rasanya spektakuler, Anda merasa jadi juara. Emosinya tidak bisa dijelaskan. Yang saya inginkan hanya terus bermain. Saya tidak pernah berpikir mereka bisa menyamakan kedudukan," ujar Yamal.
Yamal kini tercatat sebagai pemain termuda yang pernah menjuarai Euro dan Piala Dunia, yakni pada usia 19 tahun enam hari. Messi berusia 35 tahun saat mengangkat trofi Piala Dunia, Diego Maradona 25 tahun, sementara Cristiano Ronaldo belum pernah merasakannya.
Usai peluit akhir, Yamal memeluk Messi. "Saya bilang terima kasih untuk semua yang Anda berikan ke sepak bola. Saya tidak melakukannya supaya terlihat bagus di foto; itu datang dari dalam," ujarnya.
Foto legendaris Messi memandikan Yamal saat masih bayi sempat disembunyikan sang ayah selama 17 tahun atas permintaan Yamal sendiri. "Ayah pernah mengunggahnya ke Facebook dan saya minta dihapus. Perbandingan itu terlalu mudah, semua orang hanya akan membicarakan itu. Saya ingin jadi Lamine, bukan Messi," katanya.
Yamal juga disebut sebagai kandidat kuat Ballon d'Or Spanyol dan berpotensi menjadi peraih termuda sepanjang sejarah. Trofi mini miliknya kini tersimpan di rumah ibunya, sementara trofi Lego yang ia berikan ke ayahnya rusak setelah dipegang adiknya, Keyne.