SULAWESI SELATAN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memetakan skenario terburuk gempa megathrust segmen Aceh-Andaman dengan kekuatan hingga M9,2 yang berpotensi memicu tsunami setinggi 10 meter di garis pantai. Guncangan maksimal diperkirakan mencapai VIII MMI, cukup untuk merusak bangunan di kawasan pesisir barat Sumatera. Pemetaan ini bukan prediksi waktu terjadinya gempa, melainkan dasar penyusunan langkah mitigasi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Pada skala tersebut, kerusakan bangunan berpotensi terjadi di area yang terdampak. BMKG juga mencatat potensi tsunami di garis pantai barat Sumatera yang bisa melampaui 3 meter, bahkan lebih dari 10 meter di sejumlah lokasi.
Megathrust adalah sumber gempa di zona subduksi, tempat dua lempeng tektonik bertemu dan saling bergesekan pada kedalaman dangkal, umumnya kurang dari 50 kilometer. Zona ini mampu menyimpan energi besar dan melepaskannya sebagai gempa kuat dengan bidang patahan yang luas.
Posisi Indonesia di wilayah tektonik aktif membuat sejumlah zona subduksi berpotensi menjadi sumber gempa besar. BMKG mencatat ada 14 segmen megathrust dengan magnitudo maksimum yang cukup tinggi.
Setiap segmen memiliki estimasi magnitudo maksimum yang berbeda. Berikut rinciannya:
BMKG menegaskan informasi potensi megathrust ini bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Hingga kini, BMKG belum bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.
Karena itu, fokusnya adalah kesiapsiagaan. Masyarakat diminta mengenali potensi gempa dan tsunami di wilayah masing-masing, serta menyiapkan langkah mitigasi sejak sekarang.
"Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokasi hingga lebih dari 10 meter," tulis BMKG di Instagram pada Rabu (23/9).
BMKG menyebut beberapa persiapan yang bisa dilakukan warga di kawasan rawan:
Untuk mempercepat deteksi, BMKG telah memasang 533 sensor seismograf di berbagai titik. Sistem peringatan dini tsunami InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) juga disiapkan untuk mendeteksi gempa dan menyebarkan informasi ke masyarakat luas.
Peran sensor dan sistem ini krusial karena jeda antara guncangan dan datangnya tsunami bisa sangat singkat, terutama untuk gempa yang sumbernya dekat dengan pantai.
Warga diminta mewaspadai gempa dengan guncangan yang dirasakan lebih dari 30 detik atau sekitar 20 hitungan. Kondisi itu bisa menimbulkan tsunami dalam waktu singkat.
Jika merasakan guncangan sepanjang itu, segera jauhi pantai dan tepi sungai. Cari informasi resmi melalui TV nasional, radio daerah, atau pengumuman di sekitar wilayah kejadian.
Begitu mendengar bunyi sirene, kentongan, atau alat peringatan lain, lakukan evakuasi ke tempat aman. Jika tidak tahu lokasi evakuasi, larilah sejauh mungkin dari pantai dan naik ke tempat yang lebih tinggi.
BMKG belum merinci jadwal sosialisasi lanjutan untuk skenario megathrust Aceh-Andaman. Namun, informasi soal potensi dan langkah mitigasi akan terus diperbarui seiring pemantauan zona subduksi di wilayah barat Sumatera.