SULAWESI SELATAN — Kementerian Pariwisata mencatat sektor ini tetap menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian global. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan capaian tersebut dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (14/9/2026).
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Menpar Widiyanti.
Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara Januari-Juli 2026 mencapai 8,98 juta, tumbuh 5,23 persen secara tahunan. Kawasan Asia lainnya tumbuh 8,69 persen, Asia Tenggara 7,32 persen, dan Oseania 7,26 persen.
Kunjungan dari Timur Tengah kembali mencatat pertumbuhan positif seiring membaiknya situasi kawasan. Pasar Eropa masih terkontraksi, tetapi mulai menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya.
Devisa pariwisata pada Semester I 2026 mencapai 8,43 miliar dolar AS atau setara Rp 145,13 triliun. Angka ini tumbuh 2,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 8,20 miliar dolar AS atau Rp 134,68 triliun.
Pada triwulan II 2026, devisa pariwisata mencapai 4,39 miliar dolar AS atau setara Rp 76,99 triliun, relatif stabil dibanding triwulan II tahun sebelumnya.
“Artinya, di tengah dinamika geopolitik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” kata Menpar.
Perhitungan Tourism Satellite Account yang disusun BPS mencatat kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB pada 2025 mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp 1,139 triliun. Angka ini meningkat dari Rp 1,057 triliun pada 2024.
Pertumbuhan ditopang mobilitas wisatawan nusantara yang tetap tinggi, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, membaiknya konektivitas, serta penyelenggaraan event nasional dan internasional.
“Angka ini mencerminkan nilai ekonomi yang tercipta dari aktivitas wisata yang menggerakan usaha, membuka peluang kerja, dan memperluas manfaat bagi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Menpar.
Setiap transaksi wisatawan, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga belanja produk UMKM, menggerakkan roda ekonomi lokal. Devisa yang masuk mengalir ke rantai ekonomi hingga ke masyarakat.
“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” kata Menpar.
Kementerian Pariwisata menyatakan akan terus memperkuat strategi pasar dan melakukan mitigasi untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.