SULAWESI SELATAN — Ranger Raptor 2026 kami bukan lagi truk pikap biasa. Setelah dipakai kontributor Car and Driver, Jonathan Ramsey, untuk perjalanan pulang-pergi sekitar 12.875 km melewati medan berat di Kanada utara, truk ini kini dipasangi rooftop tent, rak bak belakang, pod gear, dispenser air, dan tiga tangki bensin. Total tambahan bobot mencapai 446 pon—setara membawa tiga orang penumpang dewasa. Kami penasaran seberapa besar dampaknya terhadap performa, jadi kami bawa ke trek uji.
Saat pertama kali diuji dalam kondisi kosong, Ranger Raptor ini memiliki bobot 5.358 pon (2.430 kg). Setelah semua perlengkapan overland dipasang, bobotnya naik ke 5.804 pon (2.633 kg). Menariknya, beban tambahan yang sebagian besar berada di belakang membuat distribusi berat depan-belakang hampir sempurna: 50,3/49,7 persen, dibandingkan 55,2/44,8 persen saat kosong.
Distribusi yang lebih seimbang ini ternyata membantu jarak pengereman. Dari kecepatan 112 km/jam, truk dengan muatan penuh berhenti di 211 kaki (64,3 meter)—lebih pendek 12 kaki dibanding versi kosong. Ban standar BFGoodrich All-Terrain T/A KO3 33 inci masih sanggup mencengkeram dengan baik.
Konsekuensi paling jelas dari bobot tambahan ada di akselerasi. Dalam kondisi standar, Ranger Raptor ini melesat dari 0-60 mph (0-97 km/jam) dalam 5,2 detik. Setelah dipasangi perlengkapan overland, waktunya membengkak menjadi 5,8 detik—kehilangan 0,6 detik yang cukup terasa saat ingin menyalip di jalan raya.
Untuk sprint 0-400 meter (quarter-mile), truk ini mencatat 14,6 detik dengan kecepatan akhir 150 km/jam, lebih lambat dari catatan awalnya yang 13,9 detik di 158 km/jam. Penurunan performa ini wajar mengingat bobot ekstra yang dibawa, tapi tetap perlu dipertimbangkan bagi yang sering butuh tenaga instan.
Ini temuan yang paling menarik. Rooftop tent dengan sisi-sisinya yang tumpul ternyata meningkatkan koefisien drag secara signifikan, terutama saat melaju di kecepatan tinggi. Pada rute uji tol 120 km/jam, konsumsi BBM turun dari 18 mpg menjadi 16 mpg—artinya efisiensi bahan bakar memburuk sekitar 12,5 persen.
Dalam satuan yang lebih familier, truk ini sekarang hanya menempuh sekitar 6,8 km per liter di jalan tol, turun dari 7,65 km per liter. Kombinasi bobot ekstra dan hambatan aerodinamis dari rooftop tent menjadi biang keladinya. Untuk perjalanan jauh yang butuh efisiensi, ini angka yang cukup menyakitkan di kantong.
Perlengkapan overland yang dipasang di Ranger Raptor ini jelas fungsional untuk ekspedisi jarak jauh—terbukti mampu menempuh ribuan kilometer di medan berat Kanada. Tapi trade-off-nya nyata: performa akselerasi turun dan konsumsi BBM memburuk. Untuk pemilik yang lebih sering berkendara harian di perkotaan atau jalan tol, perlengkapan semacam ini mungkin tidak sebanding dengan biaya operasional tambahannya.
Tim kami berencana melepas semua aksesori ini dan menggantinya dengan tonneau cover yang lebih aerodinamis. Setelah itu, kami akan menguji ulang untuk melihat apakah angka performa dan konsumsi BBM kembali ke kondisi standar. Satu hal yang pasti: modifikasi overland memang membuat truk ini tampak lebih tangguh, tapi di trek uji, fisik tidak bisa dibohongi.