SULAWESI SELATAN — Keputusan ini menandai akhir dari ambisi besar Dreame yang mencoba melakukan lompatan dari bisnis robot vacuum cleaner ke industri otomotif. Padahal, saat diperkenalkan pada April lalu, Nebula NEXT 01 JET Edition berhasil mencuri perhatian publik lewat klaim akselerasi gila-gilaan yang memanfaatkan dua pendorong roket berbahan bakar padat di bagian belakang kendaraan.
Klaim akselerasi 0-100 km/jam dalam 0,9 detik tersebut memang langsung menuai skeptisisme dari berbagai kalangan. Sejumlah laporan media otomotif Tiongkok mempertanyakan kelayakan klaim tersebut serta sejauh mana perkembangan proyek yang sebenarnya terjadi.
Untuk konteks, hypercar listrik produksi massal tercepat saat ini pun masih membutuhkan waktu sekitar 1,9-2,0 detik untuk mencapai 100 km/jam. Angka 0,9 detik bahkan melampaui mobil Formula 1 dan berada di luar batas fisik kemampuan ban jalan raya konvensional.
Menurut laporan media otomotif Tiongkok, operasional otomotif Dreame yang sebelumnya mempekerjakan hampir 1.000 karyawan kini hanya menyisakan beberapa puluh staf. Tim kecil tersebut bertugas mengurus penutupan operasional, masalah hukum, dan penyelesaian keuangan terkait proyek.
Penutupan ini sekaligus mengakhiri pengembangan model Nebula NEXT 01 JET Edition yang sempat diperkenalkan kepada publik pada bulan April. Tidak ada informasi resmi mengenai nilai investasi yang sudah dikeluarkan Dreame untuk proyek ini.
Kasus Dreame menjadi pengingat bahwa industri kendaraan listrik—terutama segmen hypercar—memiliki hambatan masuk yang sangat tinggi. Modal besar saja tidak cukup; dibutuhkan keahlian rekayasa otomotif yang matang, rantai pasok yang solid, dan pengujian yang panjang sebelum produk layak dijual ke konsumen.
Bagi konsumen Indonesia yang tergoda dengan klaim performa ekstrem dari pendatang baru di industri otomotif, kasus ini menjadi catatan penting. Selalu verifikasi apakah pabrikan memiliki rekam jejak di industri otomotif, fasilitas produksi yang jelas, dan jaringan layanan purna jual—bukan sekadar janji di atas panggung peluncuran.
Keputusan Dreame mundur dari industri otomotif menunjukkan bahwa klaim performa spektakuler tanpa dukungan pengujian independen dan infrastruktur produksi yang memadai tetap sulit dipercaya. Industri EV global—termasuk Tiongkok yang menjadi basis Dreame—semakin kompetitif, dan hanya pemain dengan fundamental kuat yang mampu bertahan.