MAKASSAR — BMKG Wilayah IV Makassar mencatat 14 daerah di Sulsel masuk kategori kekeringan ekstrem. Wilayah terdampak membentang dari utara hingga pesisir selatan, meliputi Toraja Utara, Tana Toraja, Enrekang, Pinrang, Sidrap, Wajo, Soppeng, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Farid, mengatakan pengaruh El Nino masih cukup terasa dan menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah berada di bawah kondisi normal.
“Pengaruh El Nino masih cukup terasa dan kondisi kering diperkirakan berlangsung sampai sekitar April 2027. Masyarakat perlu mengantisipasi dampaknya, terutama di wilayah yang sudah mengalami kekeringan ekstrem,” kata Farid, Kamis (27/8/2026).
Meski kabar buruk masih membayangi, ada secercah harapan. BMKG memprediksi hujan mulai turun di sejumlah wilayah Sulsel pada November 2026.
Namun, intensitas hujan yang turun diperkirakan masih di bawah normal. Artinya, hujan pertama tidak otomatis mengakhiri masa kering berkepanjangan.
“November nanti hujan sudah mulai ada, tetapi volumenya diperkirakan belum seperti kondisi normal. Karena itu, masyarakat tetap perlu mengantisipasi ketersediaan air meskipun hujan mulai turun,” ujarnya.
Kondisi ini memberi tekanan besar pada sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan air rumah tangga. Wilayah yang jauh dari sumber air atau jaringan irigasi menjadi titik paling rawan.
Kekeringan yang berkepanjangan berpotensi menurunkan produksi padi dan komoditas lain. Para petani di daerah tanpa irigasi teknis disebut paling berisiko mengalami gagal panen.
BMKG pun mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode kering. Salah satu yang ditekankan adalah menghindari pembakaran sampah atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran lahan, terutama saat cuaca panas dan kering berlangsung lama.
Warga diminta rutin memantau informasi cuaca dari kanal resmi BMKG untuk mengantisipasi dampak El Nino yang diprediksi masih berlangsung hingga tahun depan.