BMW Pertahankan Layar Sentuh Demi Pembeli di Bawah 45 Tahun, CEO Australia Buka Suara

Penulis: Oman Sudirman  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:39:01 WIB
Vikram Pawah, CEO BMW Group Australia, mengaitkan peralihan ke layar sentuh dengan kebiasaan generasi muda di bawah 45 tahun yang lebih adaptif terhadap teknologi.

SULAWESI SELATAN — Vikram Pawah, CEO BMW Group Australia, membeberkan alasan pabrikan Jerman itu semakin masif mengganti saklar fisik dengan layar sentuh dan perintah suara. Dalam wawancara dengan CarExpert, ia mengaitkan perubahan ini dengan kebiasaan generasi muda yang dinilainya lebih adaptif terhadap teknologi.

"Mereka terbiasa dengan teknologi, terbiasa dengan sentuhan dan suara. Mungkin ini soal generasi. Banyak anak muda, mungkin di bawah 45 tahun, yang menyerap teknologi ini lebih cepat," ujar Pawah.

Multitasking Jadi Alasan Utama Pengguna Muda Meninggalkan Tombol Fisik

Pawah menambahkan, konsumen muda cenderung kurang sabar dan kerap mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Menurutnya, kebutuhan akan kecepatan dan efisiensi inilah yang mendorong BMW merancang interior yang lebih bergantung pada layar.

"Mereka ingin semuanya selesai cepat dan mereka multitasking. Kami harus menyadari itu. Begitulah cara konsumen berevolusi," katanya.

Pernyataan ini keluar di tengah kritik terhadap desain kabin BMW iX3 terbaru yang menghilangkan hampir seluruh tombol fisik. Pengaturan suhu, audio, hingga berbagai fitur kendaraan kini hanya bisa diakses lewat layar tengah. Beberapa saklar yang tersisa hanya ada di konsol tengah, sementara tombol power window masih setia di pilar pintu.

Bukan Hanya BMW, Tesla dan Mazda Juga Tinggalkan Tombol Fisik

Fenomena ini sebenarnya bukan monopoli BMW. Tesla dikenal sejak awal memindahkan seluruh fungsi kendaraan ke layar sentuh. Pendatang baru seperti Rivian juga menerapkan filosofi serupa. Di sisi lain, pabrikan tradisional seperti Mazda dan Mercedes-Benz perlahan-lahan memindahkan berbagai kontrol ke layar dalam beberapa tahun terakhir.

Pawah menilai tren ini adalah cerminan perubahan sosial yang lebih luas. "Mobil bukan benda yang berdiri sendiri. Ia bagian dari apa yang terjadi di sekitar kita di masyarakat," ujarnya menambahkan.

Kekhawatiran Distraksi Berkendara di Balik Kenyamanan Digital

Meski argumen soal preferensi generasi muda terdengar logis, pernyataan Pawah mengabaikan potensi bahaya berkendara yang muncul dari interaksi pengemudi dengan layar. Mengoperasikan menu di layar sentuh saat melaju jelas membutuhkan fokus visual yang lebih lama dibanding memutar knop volume atau menggeser saklar AC.

Belum ada regulasi yang secara spesifik membatasi jumlah fungsi yang boleh dipindahkan ke layar sentuh, baik di Australia maupun Indonesia. Namun, sejumlah lembaga keselamatan di Eropa mulai menyoroti tren ini dan mendorong pabrikan mempertahankan tombol fisik untuk fungsi-fungsi kritis seperti klakson dan lampu hazard.

Keputusan BMW untuk tetap melangkah pada desain minim tombol ini akan terus diuji di pasar. Pertanyaannya, apakah kenyamanan digital yang ditawarkan cukup kuat untuk mengalahkan kebutuhan intuitif pengemudi akan kontrol fisik, terutama di tengah meningkatnya kesadaran akan keselamatan berkendara.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: caranddriver.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top