SULAWESI SELATAN — Eksperimen yang dilakukan TikTok ini memicu kemarahan di Kongres AS setelah terungkap bahwa perusahaan sengaja mematikan fitur pengaman algoritmik bagi 10 persen pengguna di Amerika Serikat. Fitur tersebut dirancang untuk mencegah pengguna dibanjiri konten berbahaya, tetapi TikTok justru ingin menguji apakah fitur itu mengurangi tingkat keterlibatan (engagement) pengguna terhadap aplikasi.
Bloomberg melaporkan bahwa salah satu korban dalam kelompok kontrol adalah Chase Nasca, remaja laki-laki berusia 16 tahun. Algoritma yang tidak dilindungi fitur keamanan itu terus memberinya ribuan video bertema kesedihan, bunuh diri, dan kesepian hingga ia meninggal dunia karena bunuh diri.
Kasus ini menjadi titik api kritik terhadap praktik pengujian TikTok yang dinilai mengabaikan keselamatan pengguna demi kepentingan bisnis. Senator Marsha Blackburn (R-TN) dan Richard Blumenthal (D-CT) menyebut keputusan perusahaan untuk menjalankan eksperimen tersebut sebagai tindakan "keji" (depraved) dalam surat resmi yang ditujukan kepada CEO TikTok Shou Chew dan Adam Presser, CEO bisnis TikTok di AS.
Dalam surat yang dikirim pekan lalu, kedua senator meminta jawaban tertulis atas 13 pertanyaan krusial. Beberapa poin yang paling disorot adalah daftar nama setiap karyawan yang mengetahui eksperimen ini, serta alasan TikTok mengizinkan pengguna di bawah umur menjadi bagian dari kelompok kontrol.
Senator juga meminta TikTok membuka data lengkap mengenai setiap eksperimen algoritma yang pernah dilakukan di AS, khususnya yang melibatkan penonaktifan atau penundaan fitur keamanan. Permintaan ini bertujuan memetakan seberapa luas praktik serupa telah terjadi selama ini.
Persoalan ini datang di tengah meningkatnya pengawasan Kongres terhadap platform media sosial dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja. Sebelumnya, TikTok juga telah menghadapi tuntutan hukum dari berbagai negara bagian AS yang menuduh platform ini sengaja merancang fitur adiktif yang merugikan pengguna muda.
Hingga berita ini diturunkan, TikTok belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari TechCrunch. Namun, tekanan politik yang meningkat ini bisa berdampak signifikan terhadap operasional TikTok di AS, yang sebelumnya sempat menghadapi ancaman pelarangan di tingkat federal.
Bagi pengguna di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa keputusan algoritma platform global sering kali tidak transparan. Meski belum ada laporan serupa di pasar lokal, pengguna tetap perlu bijak dalam mengonsumsi konten dan memanfaatkan fitur keamanan yang tersedia, seperti batas waktu penggunaan dan filter konten sensitif.