SULAWESI SELATAN — Langkah ini diumumkan pekan ini dengan melibatkan Apollo, BlackRock, Blackstone, Brookfield, Goldman Sachs, dan KKR. Yang menarik bukan hanya nominalnya yang fantastis, melainkan mekanisme di baliknya: Nvidia siap menutup selisih nilai hingga 25 persen jika GPU yang dijadikan jaminan tidak laku sesuai harga buku saat data center peminjam gagal bayar.
Bagi Nvidia, ini bukan sekadar strategi pendanaan. CEO Jensen Huang ingin memastikan ekosistem perangkat keras AI bekas tetap hidup. Visinya, server AI yang disebutnya "pabrik AI" itu tidak akan menjadi barang usang seperti PC, melainkan aset jangka panjang yang bisa dipindahtangankan—mirip kereta api atau pesawat terbang.
"Ketika kebutuhan berubah, pabrik ini bisa digunakan oleh pelanggan lain, cloud lain, atau operator lain. Ekosistem yang luas ini memberi komputasi Nvidia pasar pengguna yang dalam dan membantu melindungi nilai residu," tulis Huang di akun X-nya.
Para analis menyebut skema ini mengandung "wrong way risk"—kewajiban Nvidia justru membengkak saat permintaan melemah, bersamaan dengan pendapatan yang ikut tertekan. Perbandingan dengan Lucent Technologies, raksasa telekomunikasi yang bangkrut setelah era dotcom, pun mencuat.
Huang menepis perbandingan itu. Ia menegaskan inisiatif ini justru dirancang untuk menjawab kekhawatiran soal "circular financing" dengan menghadirkan modal institusional independen jangka panjang. Bedanya dengan Lucent, Nvidia tidak meminjamkan uang secara langsung—ia hanya melindungi sebagian nilai aset di masa depan.
Skema ini menjadi katup penyelamat di tengah menipisnya sumber pendanaan tradisional. Sejumlah hyperscaler sudah kebanjiran utang (Oracle), menerbitkan ekuitas baru (Google), atau membakar kas (Meta). Bahkan CEO Microsoft, Satya Nadella, merekomendasikan buku berjudul "1873" yang mengisahkan rekayasa keuangan era perkeretaapian yang memicu krisis ekonomi.
Nvidia sendiri telah mengalokasikan miliaran dolar untuk pembeli chipnya, termasuk laboratorium AI frontier seperti OpenAI dan Anthropic, serta neocloud seperti CoreWeave, Nebius, Firmus, dan Lambda. Bloomberg menghitung Nvidia tengah menggarap transaksi senilai US$ 750 miliar lainnya sepanjang musim panas ini.
Jika skema ini berhasil, dampaknya akan terasa hingga ke lapisan bawah industri. Startup, perusahaan, dan peneliti berpeluang mengakses beragam perangkat keras dengan spesifikasi berbeda—dari chip terbaru hingga arsitektur generasi sebelumnya—yang masing-masing dioptimalkan untuk kebutuhan AI yang berbeda.
Ini mirip dengan tren adopsi model open-weight yang lebih terjangkau di samping model frontier. Bagi Nvidia, menjaga nilai GPU tua sama pentingnya dengan menjual chip baru. Dengan posisinya sebagai penguasa pasar AI saat ini, perusahaan punya pengaruh dan peluang untuk mewujudkan ekosistem tersebut.
Risiko terbesar tetap ada: jika permintaan AI melambat atau teknologi baru membuat infrastruktur saat ini usang, seluruh rantai nilai bisa runtuh. Namun Huang bertaruh bahwa AI akan menjadi infrastruktur yang layak investasi jangka panjang, bukan sekadar tren sesaat.