Menyingkap 7 Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan

Penulis: Redaksi  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 16:15:31 WIB
Tempat wisata tersembunyi di Sulawesi Selatan. (Foto: NET)

SULAWESI SELATAN - Sulawesi Selatan tidak hanya memiliki destinasi populer seperti Pantai Losari, Tanjung Bira, dan kawasan budaya Toraja.

Di balik nama-nama tersebut, masih terdapat tempat wisata tersembunyi di Sulawesi Selatan yang menawarkan lanskap alam, suasana tenang, dan pengalaman perjalanan yang jauh dari kesan wisata massal.

Bagi pencinta petualangan, tempat wisata tersembunyi di Sulawesi Selatan menghadirkan pilihan menarik, mulai dari sabana di dataran tinggi, danau di kaki gunung, pulau kecil, tebing laut, hingga jalur pendakian menuju atap Pulau Sulawesi.

Karakter geografis Sulawesi Selatan memang mendukung kemunculan destinasi dengan lanskap beragam.

Wilayah ini memiliki pegunungan, pesisir, pulau-pulau kecil, lembah, hutan, hingga kawasan pedesaan yang masih mempertahankan kehidupan tradisional.

Tidak mengherankan jika perjalanan menuju sejumlah destinasi membutuhkan waktu lebih panjang atau trekking sebelum panorama utama terlihat.

7 tempat wisata tersembunyi di Sulawesi Selatan

Bagi wisatawan yang ingin keluar dari rute perjalanan mainstream, berikut tujuh destinasi yang layak dipertimbangkan.

1. Lappa Laona, Sabana Hijau di Pegunungan Barru

Lappa Laona berada di Dusun Waruwue, Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.

Destinasi ini dikenal sebagai kawasan dataran tinggi dengan hamparan padang rumput yang luas. Pemerintah Kabupaten Barru mencatat Lappa Laona berada di sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dan memiliki karakter lanskap berupa savana serta perbukitan hijau.

Keindahan Lappa Laona terasa berbeda dibandingkan wisata pantai yang selama ini identik dengan Sulawesi Selatan.

Bentang rumput terbuka membuat pandangan terasa luas, sementara udara pegunungan memberikan suasana yang lebih sejuk.

Pagi Berkabut hingga Senja di Padang Rumput

Pagi hari menjadi salah satu waktu menarik untuk menikmati kawasan ini. Kabut dapat menyelimuti perbukitan dan padang rumput, menciptakan suasana yang menyerupai negeri di atas awan.

Menjelang sore, lanskap terbuka juga menjadi lokasi yang menarik untuk menikmati perubahan warna langit.

Lappa Laona tidak hanya mengandalkan panorama. Fasilitas yang tercatat di pengelola pariwisata daerah antara lain toilet, tempat ibadah, area parkir, kantin, gazebo, penginapan, camping ground, dan spot foto.

Aktivitas berkemah menjadi salah satu kegiatan yang cukup populer karena memungkinkan wisatawan menikmati suasana malam di dataran tinggi.

Dengan karakter tersebut, Lappa Laona cocok bagi pencinta fotografi alam, camping, piknik, maupun perjalanan santai.

2. Danau Tanralili, Telaga Eksotis di Kaki Bawakaraeng

Danau Tanralili terletak di Desa Manimbahoi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa. Lokasinya berada di kawasan kaki Gunung Bawakaraeng dan menjadi salah satu destinasi alam yang menawarkan pengalaman berbeda.

Pemerintah Kabupaten Gowa memasukkan Danau Tanralili sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan dalam kawasan ekowisata Malino dan sekitarnya.

Danau ini memiliki sejarah pembentukan yang menarik. Cekungan tempat air berkumpul terbentuk akibat longsoran di kawasan Gunung Bawakaraeng.

Posisi danau yang berada di ketinggian sekitar 1.454 meter di atas permukaan laut membuat suasananya relatif sejuk.

Trekking Menjadi Bagian dari Pengalaman

Daya tarik Tanralili tidak hanya berada pada danaunya. Perjalanan menuju lokasi juga menjadi bagian dari petualangan.

Jalur pendakian dari kawasan terakhir yang dapat dijangkau kendaraan membutuhkan waktu beberapa jam, tergantung kondisi jalur dan kemampuan fisik.

Panorama sepanjang perjalanan berupa perbukitan hijau membuat trekking terasa lebih menarik. Setelah mencapai area danau, suasana yang relatif jauh dari hiruk-pikuk perkotaan menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi wisatawan yang berencana bermalam, persiapan harus dilakukan secara matang. Perlengkapan trekking, makanan, air minum, pakaian hangat, penerangan, dan perlengkapan keselamatan menjadi bagian penting sebelum memulai perjalanan.

3. Pulau Liukang Loe, Surga Bahari di Dekat Tanjung Bira

Nama Tanjung Bira memang sudah populer di kalangan wisatawan. Namun, kawasan tersebut masih memiliki pulau kecil yang menarik untuk dijelajahi, yakni Pulau Liukang Loe.

Pulau ini berada di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Dinas Pariwisata Bulukumba menyebut Liukang Loe sebagai salah satu destinasi bahari unggulan dengan laut jernih, pasir putih, dan suasana yang relatif tenang.

Pulau tersebut dapat dicapai dengan perahu dari kawasan Bira.

Keindahan bawah laut menjadi salah satu alasan utama wisatawan datang. Perairan dangkal di sekitar pulau dapat digunakan untuk snorkeling dan menyelam.

Data Jejaring Desa Wisata juga mencatat adanya penginapan, tempat makan, penyewaan perlengkapan, serta fasilitas penangkaran penyu.

Menikmati Pulau Kecil Tanpa Suasana Kota

Pulau Liukang Loe menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata yang dipenuhi bangunan komersial.

Aktivitas sederhana seperti berjalan menyusuri kampung, melihat rumah masyarakat, menikmati laut, atau berbincang dengan warga dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Keberadaan dua kampung di pulau tersebut juga memperlihatkan kehidupan masyarakat setempat yang masih dekat dengan karakter kepulauan.

Karena itu, kunjungan sebaiknya dilakukan dengan menghormati aktivitas warga dan menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

4. Buttu Macca, Panorama Pegunungan di Enrekang

Buttu Macca berada di wilayah Kabupaten Enrekang dan menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi pencinta panorama dari ketinggian.

Kawasan ini tercatat dalam Desa Wisata Bamba Puang sebagai salah satu objek wisata alam yang berada dalam kawasan desa wisata tersebut.

Selain Buttu Macca, kawasan Bamba Puang juga memiliki air terjun dan panorama pegunungan lainnya.

Daya tarik utama Buttu Macca adalah lanskap pegunungan yang luas. Pada kondisi cuaca tertentu, kabut yang bergerak di antara lembah menciptakan pemandangan dramatis.

Datang untuk Menikmati Lanskap, Bukan Sekadar Berfoto

Keindahan Buttu Macca tidak berhenti pada spot foto. Kawasan Enrekang memiliki bentang alam perbukitan yang membuat perjalanan menuju destinasi terasa seperti perjalanan menyusuri lanskap pedalaman Sulawesi Selatan.

Waktu kunjungan perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca. Kawasan pegunungan dapat mengalami perubahan cuaca yang cepat sehingga perlengkapan seperti jaket, jas hujan, alas kaki dengan daya cengkeram baik, dan air minum sebaiknya disiapkan.

Bagi pencinta fotografi, pagi dan sore dapat menjadi waktu menarik karena cahaya matahari memberikan dimensi berbeda pada perbukitan.

5. Gunung Rantemario, Menaklukkan Atap Sulawesi

Bagi pencinta pendakian, Gunung Rantemario memiliki daya tarik yang jauh lebih besar daripada sekadar destinasi wisata biasa.

Puncak Rantemario berada pada ketinggian sekitar 3.478 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai titik tertinggi di Pulau Sulawesi.

Gunung ini berada di kawasan Pegunungan Latimojong, Kabupaten Enrekang. Jalur pendakian yang populer melewati Desa Karangan setelah perjalanan menuju kawasan Baraka. Pendakian membutuhkan persiapan fisik dan logistik yang lebih serius dibandingkan wisata alam pada umumnya.

Bukan Pendakian untuk Persiapan Setengah-Setengah

Rantemario menawarkan kombinasi tantangan dan panorama alam. Jalur menuju puncak melewati perkebunan, kawasan hutan, punggungan, serta medan menanjak.

Karena durasi perjalanan dapat berlangsung beberapa hari, persiapan perlengkapan menjadi faktor penting.

Kawasan Pegunungan Latimojong juga memiliki nilai ekologis. Dokumen lingkungan WALHI Sulawesi Selatan mencatat kawasan tersebut sebagai salah satu bentang alam penting yang memiliki hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati endemik.

Hal tersebut membuat kegiatan pendakian seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian puncak.

Menjaga vegetasi, membawa kembali sampah, mengikuti jalur resmi, serta menghormati masyarakat sekitar merupakan bagian dari etika perjalanan.

6. Pantai Apparalang, Tebing Karang Menghadap Laut Lepas

Pantai Apparalang di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, menawarkan karakter pantai yang berbeda.

Alih-alih hamparan pasir sebagai daya tarik utama, kawasan ini dikenal melalui tebing dan formasi batuan yang menghadap langsung ke laut.

Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat Apparalang berada di Desa Wisata Ara.

Kawasan tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pusat pendidikan lingkungan hidup karena hutan di sekitar pantai dan ekosistem terumbu karangnya masih memiliki nilai konservasi.

Panorama Laut dari Atas Tebing

Posisi tebing membuat Apparalang menawarkan sudut pandang luas ke laut. Air laut yang terlihat dari ketinggian berpadu dengan batuan karang dan vegetasi di sekitarnya.

Panorama paling menarik biasanya muncul ketika cahaya matahari mulai melunak menjelang sore.

Namun, aktivitas di area tebing tetap harus dilakukan dengan kehati-hatian karena kondisi batuan, angin, dan ombak dapat berubah.

Keindahan Apparalang juga menjadi pengingat bahwa wisata bahari tidak selalu berarti berenang atau bermain pasir.

Menikmati lanskap dari anjungan, berjalan di sekitar kawasan, dan mengamati laut sudah menjadi pengalaman tersendiri.

7. Lembah Hijau Kanari, Menjauh dari Hiruk-Pikuk Kota

Luwu Timur memiliki karakter alam yang berbeda dibandingkan kawasan wisata populer di bagian selatan Sulawesi Selatan.

Wilayah ini menyimpan bentang alam pegunungan, lembah, sungai, dan kawasan pesisir yang masih menarik untuk dijelajahi.

Lembah Hijau Kanari dikenal sebagai salah satu pilihan wisata alam bagi pencinta suasana terbuka dan perjalanan yang lebih tenang.

Namun, informasi resmi mengenai destinasi ini masih relatif terbatas dibandingkan destinasi yang telah berkembang lebih dahulu.

Kondisi tersebut justru menjadi alasan penting untuk memperlakukan kawasan secara lebih bertanggung jawab.

Wisatawan yang datang sebaiknya memastikan informasi rute terbaru kepada masyarakat setempat atau pengelola sebelum perjalanan.

Perjalanan Panjang yang Dibayar dengan Ketenangan

Daya tarik kawasan Luwu Timur terletak pada lanskap alaminya. Sejumlah desa wisata di wilayah tersebut juga mengembangkan wisata berbasis alam dan aktivitas masyarakat.

Misalnya, Desa Wisata Wanasari menawarkan lanskap persawahan dan panorama perdesaan, sedangkan Desa Wisata Matano Iniaku memiliki aktivitas alam seperti body rafting.

Karakter tersebut menunjukkan bahwa perjalanan ke kawasan Luwu Timur dapat dikembangkan bukan sekadar mengejar spot foto, melainkan sebagai pengalaman menikmati alam dan kehidupan masyarakat lokal.

Mengapa Wisata Tersembunyi Menarik untuk Dijelajahi?

Destinasi yang belum terlalu populer memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak adanya antrean panjang, suasana yang lebih tenang, serta interaksi yang lebih dekat dengan masyarakat lokal dapat membuat perjalanan terasa lebih personal.

Namun, istilah "tersembunyi" tidak berarti destinasi tersebut boleh diperlakukan tanpa aturan. Semakin populer sebuah tempat, semakin besar pula tekanan terhadap lingkungan.

Karena itu, prinsip wisata bertanggung jawab penting diterapkan sejak perjalanan dimulai.

Pengunjung dapat berkontribusi dengan membeli makanan dari warga sekitar, menggunakan jasa pemandu lokal ketika diperlukan, memilih penginapan milik masyarakat, serta tidak mengambil flora atau fauna dari habitatnya.

Tips Aman Menjelajahi Destinasi Anti-Mainstream

Sebelum berangkat, beberapa hal penting perlu diperhatikan.

1. Periksa Kondisi Cuaca

Destinasi pegunungan dan pesisir sama-sama dipengaruhi cuaca. Hujan dapat membuat jalur trekking licin, sementara angin kencang dapat memengaruhi kondisi perjalanan laut.

2. Jangan Bergantung Sepenuhnya pada GPS

Sinyal telekomunikasi belum tentu tersedia di kawasan terpencil. Peta offline, informasi dari warga, dan kontak pengelola dapat menjadi cadangan penting.

3. Siapkan Perlengkapan Sesuai Medan

Perjalanan menuju Lappa Laona berbeda dengan perjalanan menuju Rantemario. Begitu pula dengan kunjungan ke Liukang Loe yang membutuhkan transportasi laut. Perlengkapan harus disesuaikan dengan karakter destinasi.

4. Gunakan Pemandu Lokal Bila Diperlukan

Untuk jalur pendakian atau kawasan yang belum familiar, pemandu lokal dapat membantu memahami rute sekaligus memberikan informasi mengenai kondisi medan.

5. Terapkan Prinsip Tidak Meninggalkan Sampah

Keindahan destinasi tersembunyi sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Sampah yang dibawa masuk harus dibawa kembali atau dibuang pada tempat yang disediakan.

Kesimpulan

Sulawesi Selatan memiliki jauh lebih banyak cerita daripada destinasi wisata yang sudah populer.

Lappa Laona menawarkan sabana dan udara pegunungan, Tanralili menghadirkan danau di kaki Bawakaraeng, Liukang Loe menyuguhkan pesona bahari, sementara Apparalang menawarkan lanskap tebing dan laut yang dramatis.

Bagi pencinta pendakian, Rantemario menjadi tantangan tersendiri karena merupakan titik tertinggi Pulau Sulawesi.

Di sisi lain, Buttu Macca dan kawasan Luwu Timur memberikan pilihan perjalanan yang lebih dekat dengan lanskap perdesaan dan alam terbuka.

Perjalanan menuju destinasi semacam ini memang tidak selalu mudah. Justru proses menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman.

Semakin jauh dari pusat keramaian, semakin penting pula persiapan, penghormatan terhadap lingkungan, dan interaksi yang baik dengan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, menjelajahi tempat wisata tersembunyi di Sulawesi Selatan bukan sekadar mencari lokasi baru untuk difoto, melainkan menemukan sisi lain provinsi ini melalui alam, budaya, dan kehidupan masyarakatnya.

Reporter: Redaksi
Back to top