Pencarian

7 Cara Atasi Anak Tidak Mau Makan saat Sakit, Ibu Jangan Panik

Minggu, 04 Oktober 2026 • 09:09:31 WIB
7 Cara Atasi Anak Tidak Mau Makan saat Sakit, Ibu Jangan Panik
Ibu memberikan cairan kepada anak yang sedang sakit untuk mencegah dehidrasi.

SULAWESI SELATAN — Nafsu makan anak yang drop saat demam atau flu sering bikin ibu cemas sendiri. Padahal, American Academy of Pediatrics mencatat penurunan nafsu makan saat sakit adalah hal umum. Ada 7 cara praktis yang bisa Ibu coba di rumah untuk menjaga asupan nutrisi dan cairan si Kecil tetap aman.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa masalah makan yang berlangsung lama bisa menurunkan asupan kalori anak. Dampaknya bukan cuma berat badan, tapi juga tumbuh kembangnya. Karena itu, saat si Kecil sakit dan menolak makan, yang perlu dijaga bukan target porsi habis, melainkan cairan dan nutrisi yang masuk.

Kenapa Anak Tidak Nafsu Makan saat Sakit?

Saat tubuh melawan infeksi, energi anak terkuras sehingga ia lebih mudah lelah dan ingin banyak tidur. Kondisi ini membuatnya enggan beraktivitas, termasuk makan. WHO mencatat anak yang sakit bisa makan lebih sedikit karena tidak merasa lapar atau nyeri di mulut dan tenggorokan.

Keluhan lain seperti sariawan, mual, muntah, diare, atau sakit perut juga bikin proses makan terasa tidak nyaman. American Academy of Pediatrics lewat Healthy Children menegaskan penurunan nafsu makan ini normal. Yang perlu lebih diawasi justru asupan cairannya, karena risiko dehidrasi meningkat saat anak sakit.

1. Penuhi Kebutuhan Cairan Lebih Dulu

Kalau anak belum mau makan, jangan langsung dipaksa menghabiskan sepiring nasi. Pastikan dulu cairannya cukup. Tawarkan air putih, ASI, atau susu sesuai kebiasaan dan usia anak.

Jika anak diare atau muntah, dokter bisa merekomendasikan larutan oralit untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. IDAI menekankan pentingnya memberi minum sesering mungkin selama anak sakit.

2. Beri Porsi Kecil tapi Lebih Sering

Porsi besar justru bikin anak merasa tidak sanggup dan mual. Coba tawarkan beberapa sendok makanan dulu. Kalau anak masih mau, tambahkan perlahan.

Pola ini sejalan dengan rekomendasi WHO: makanan diberikan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering, dengan tekstur lembut, hangat, dan kaya nutrisi.

3. Pilih Makanan yang Disukai Anak

Anak lebih mudah menerima makanan bertekstur lembut dengan rasa yang familiar. Bubur, sup, kentang halus, telur, pisang, atau makanan rumahan kesukaannya bisa jadi pilihan.

Sesuaikan dengan kondisinya. Kalau mulut atau tenggorokannya sakit, makanan yang terlalu asam atau sangat manis justru bikin tidak nyaman.

4. Sesuaikan Tekstur dengan Kondisi Anak

Anak yang pusing, sariawan, atau mual lebih nyaman makan makanan lunak dan halus. Jika hidungnya tersumbat, bersihkan dulu supaya ia lebih mudah bernapas dan nyaman saat makan.

5. Ciptakan Suasana Makan yang Santai

IDAI menganjurkan orang tua menyediakan suasana makan yang menyenangkan. Kalau anak menutup mulut, memalingkan kepala, atau menangis, beri waktu sejenak dulu.

Hindari melabeli makanan sebagai baik atau buruk. Ahli gizi anak Charlotte Stirling Reed menyarankan sikap netral. "Cobalah bersikap netral. Hindari kalimat, 'Kalau kamu makan itu, kamu akan dapat hadiah atau hukuman'. Kalimat-kalimat seperti itu bisa berdampak sangat negatif pada anak-anak," katanya.

6. Jangan Paksa Anak Menghabiskan Makanan

Memaksa anak makan hanya menambah stres di meja makan dan bisa memperburuk penolakannya. Cukup tawarkan, lalu berhenti bila ia sudah menunjukkan tanda kenyang atau tidak mau.

7. Tetap Tawarkan Makanan Setelah Sakit

Setelah kondisi membaik, anak dianjurkan tetap makan lebih sering untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama sakit. Pemenuhan cairan juga tetap dijaga, terutama bila anak sempat demam, muntah, atau diare.

Kapan Perlu ke Dokter?

Segera konsultasi ke dokter bila anak sama sekali tidak mau minum, tanda dehidrasi muncul seperti mata cekung atau pipis berkurang, atau penolakan makan berlangsung lama. IDAI mengingatkan masalah makan berkepanjangan bisa memengaruhi berat badan dan perkembangan anak.

Yang paling penting saat anak sakit bukan porsi yang habis, tapi cairan yang cukup dan nutrisi yang tetap masuk sedikit-sedikit. Tenang, tawarkan terus tanpa paksaan, dan percayakan pemulihan pada waktu plus pendampingan dokter bila perlu.

Follow wartamakassar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks