Subsidi Ganda Bikin Nissan Sakura Baru di Tokyo Cuma Rp62 Juta, Lebih Murah dari Bekas

Penulis: Mustofa Kamal  •  Senin, 13 Juli 2026 | 12:06:01 WIB
Nissan Sakura baru di Tokyo dijual Rp62 juta setelah subsidi, lebih murah dari harga bekasnya.

SULAWESI SELATAN — Fenomena unik terjadi di pasar otomotif Jepang. Harga mobil listrik baru di Tokyo justru lebih murah ketimbang unit bekasnya, berkat tumpukan subsidi dari pemerintah pusat dan daerah. Nikkei Asia, Selasa (7/7), melaporkan kasus paling ekstrem terjadi pada Nissan Sakura, mobil listrik mini andalan Nissan.

Nissan Sakura: Harga Baru Rp62 Juta, Harga Bekas Rp168 Juta

Harga ritel Nissan Sakura dibanderol 2,44 juta yen atau sekitar Rp271,97 juta. Namun konsumen di Tokyo bisa mendapatkannya hanya dengan 560.000 yen (Rp62,42 juta) setelah subsidi penuh cair. Sebagai perbandingan, harga rata-rata Sakura bekas di pasaran mencapai 1,51 juta yen (Rp168,31 juta)—hampir tiga kali lipat harga baru bersubsidi.

Skema ini menggabungkan dua lapis subsidi. Lapis pertama adalah subsidi nasional sebesar 580.000 yen (Rp64,65 juta). Lapis kedua adalah subsidi Pemerintah Metropolitan Tokyo yang dinaikkan 300.000 yen menjadi 1,3 juta yen (Rp144,9 juta) per awal Juli sebagai respons atas lonjakan harga energi.

Subsidi Tokyo bersifat bertingkat. Mobil listrik Nissan, Honda, dan Toyota langsung mendapat potongan dasar 900.000 yen (Rp100,32 juta). Tambahan 400.000 yen diberikan jika pembeli memenuhi syarat, seperti memasang alat pengisian daya dan panel surya. Tanpa syarat tambahan pun, pembeli Sakura di Tokyo cukup membayar 960.000 yen (Rp107 juta)—sudah lebih murah dari kei car bensin pada umumnya.

Honda N-VAN e: dan Super-One Ikut Kebagian Kucuran Insentif

Model listrik lain juga menikmati insentif serupa. Honda Super-One yang meluncur Mei lalu dijual ritel 3,39 juta yen (Rp377,87 juta) dan turun menjadi 2,09 juta yen (Rp232,96 juta) setelah subsidi nasional. Dengan tambahan subsidi Tokyo, harganya bisa serendah 790.000 yen (Rp88,06 juta). Permintaan Super-One begitu tinggi hingga sejumlah diler sempat menyetop sementara pemesanan model tertentu.

Di luar Tokyo, besaran subsidi bervariasi. Prefektur Gunma menawarkan hingga 500.000 yen (Rp55,73 juta), sementara Fukui hanya 100.000 yen (Rp11,15 juta). Beberapa distrik di Tokyo bahkan memiliki subsidi tambahan sendiri, membuat insentif di ibu kota tergolong paling royal di Jepang.

Penjualan Mobil Listrik Jepang Tembus 3 Persen untuk Pertama Kali

Insentif ini langsung mendongkrak penjualan. Sepanjang kuartal April-Juni, penjualan mobil listrik penumpang di Jepang mencapai 32.378 unit—hampir tiga kali lipat dari periode sama tahun lalu. Porsinya menembus 3,4 persen dari total penjualan mobil baru, pertama kalinya rasio kuartalan melebihi 3 persen. Pada Juni saja, rasionya sudah di atas 4 persen.

Honda mencatat lonjakan paling dramatis dengan 4.497 unit terjual pada kuartal kedua, dibanding hanya tiga unit pada periode sama tahun sebelumnya. Model ringkas Super-One menyumbang 60 persen dari volume tersebut. Penjualan Tesla naik hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 7.000 unit, ditambah gratis penggunaan stasiun Supercharger selama tiga tahun. Toyota melonjak 38 kali lipat menjadi 7.240 unit, dengan bZ4X sebagai model listrik terlaris di Jepang yang harganya bisa terpangkas lebih dari separuh menjadi 2,2 juta yen (Rp245,22 juta) di Tokyo.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top