SULAWESI SELATAN — Boikot petenis top dunia terhadap kewajiban wawancara di Wimbledon resmi berakhir. Keputusan ini diambil setelah perwakilan pemain menggelar pertemuan dengan panitia penyelenggara All England Club pada akhir pekan lalu. Aksi yang sedianya berlangsung selama pekan pertama turnamen itu pun dipersingkat.
Aryna Sabalenka dan Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia, menjadi motor protes ini. Mereka, bersama Coco Gauff dan Iga Swiatek, sebelumnya membatasi penampilan media hanya 15 menit pada Sabtu dan Minggu. Batas waktu itu sengaja dipilih untuk melambangkan 15% pendapatan Grand Slam yang saat ini dialokasikan untuk hadiah uang.
Para pemain mendesak setiap Grand Slam mengalokasikan 16% pendapatan untuk hadiah uang, dan angka itu naik menjadi 22% pada 2030. Mereka juga menuntut peningkatan kontribusi untuk kesejahteraan pemain, seperti dana pensiun dan cuti melahirkan.
“Keputusan ini didasarkan pada komitmen Wimbledon untuk mengembalikan proposal spesifik yang membahas tiga poin pengajuan pemain,” bunyi pernyataan resmi perwakilan pemain. Mereka menegaskan masalah mendasar masih belum terselesaikan dan akan mengevaluasi proposal setelah diterima.
Wimbledon memang sudah menaikkan total hadiah sebesar 20% tahun ini menjadi £64,2 juta—kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah turnamen. Namun, bagi para pemain, itu belum cukup. “Kami melakukannya untuk tur, bukan untuk diri sendiri. Kami melakukannya untuk pemain lain yang kesulitan bahkan untuk menyewa pelatih,” ujar Sabalenka.
Daniil Medvedev, mantan nomor satu dunia, menambahkan bahwa aksi di Roland Garros bulan lalu ikut mendorong Wimbledon bergerak. “Persentase pendapatan lebih rendah dari 10 tahun lalu. Kami mendorong sesuatu yang lebih adil. Tidak ada yang marah, ini hanya diskusi,” katanya.
Menariknya, tidak semua petenis papan atas ikut serta. Novak Djokovic, juara tujuh kali Wimbledon, memilih tidak ambil bagian dan menjalani wawancara normal. Alex de Minaur dan Alexander Zverev juga mundur dari aksi ini. “Wimbledon sudah mengambil langkah besar ke arah yang benar. Itu harus diakui,” ujar De Minaur.
Zverev, yang mewakili pemain dalam negosiasi dengan Grand Slam tahun lalu, punya alasan lain. “Media tidak bisa mengubah apa pun. Tidak baik melampiaskannya pada mereka yang tidak punya kuasa,” katanya. Protes ini menjadi yang kedua kalinya secara beruntun setelah aksi serupa di Prancis Terbuka bulan lalu.