SIDRAP — Pola mutasi perwira di tubuh Polri biasanya berlangsung tanpa benang merah yang jelas antara pejabat lama dan baru. Namun, kisah AKBP Fantry Taherong dan AKBP Indra Mardiana membantah kebiasaan itu. Keduanya seperti dua jalur rel yang sesekali berjauhan, tetapi selalu bertemu di stasiun yang sama: Sidrap.
AKBP Fantry Taherong tercatat pernah memimpin Polres Sidrap. Setelah promosi dan bertugas di luar daerah, ia kini mengemban jabatan baru di Polda Sulsel. Di saat yang hampir bersamaan, AKBP Indra Mardiana—yang juga pernah menjabat Kapolres Sidrap—kembali hadir mengisi ruang yang ditinggalkan Fantry. Bukan di posisi yang sama, melainkan dalam struktur yang saling beririsan.
Mutasi pejabat di institusi kepolisian biasanya mempertemukan figur-figur yang tidak memiliki keterkaitan sejarah panjang. Namun, Fantry dan Indra berbeda. Keduanya memiliki rekam jejak yang berkali-kali dipertemukan oleh tempat, waktu, dan jabatan yang nyaris serupa. Sidrap menjadi simpul utama yang terus menghubungkan karier mereka.
“Ini adalah cerita tentang dua perwira yang kariernya berkali-kali dipertemukan oleh tempat, waktu, dan jabatan yang nyaris serupa,” demikian penjelasan dalam pemberitaan yang dirilis Katasulsel.com.
Dalam praktik mutasi di lingkungan Polri, pergantian kapolres biasanya berlangsung antara dua orang yang tidak memiliki keterkaitan sejarah yang panjang. Pola seperti yang terjadi pada Fantry dan Indra tergolong langka. Proses rotasi yang berulang di satu wilayah—dengan dua perwira yang saling menggantikan secara tidak langsung—menunjukkan adanya dinamika organisasi yang unik.
Keduanya kini kembali berada dalam satu lingkaran tugas di Polda Sulsel. Sidrap, yang pernah menjadi tempat mereka memimpin, kembali menjadi titik temu. Bagi pengamat struktur kepolisian, pola ini bisa menjadi bahan kajian menarik tentang bagaimana jaringan alumni jabatan di daerah membentuk sirkulasi karier tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kedua perwira mengenai mutasi ini. Namun, publik Sidrap—yang mengenal keduanya saat bertugas sebagai kapolres—tentu memiliki catatan tersendiri tentang gaya kepemimpinan yang mereka tinggalkan.