MAKASSAR — Keluarga kapten kapal asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang disandera perompak Somalia akhirnya buka suara setelah dua bulan komunikasi terputus. Sang kapten dikabarkan mengalami penurunan kondisi fisik yang drastis di lokasi penyanderaan.
Informasi yang diterima keluarga menyebutkan bahwa korban saat ini sakit parah dan tidak bisa berjalan. Kondisi ini diduga akibat minimnya asupan makanan bergizi serta akses obat-obatan selama masa penawanan di tengah laut.
Keluarga terakhir kali mendengar kabar langsung dari korban sekitar dua bulan lalu. Sejak itu, seluruh upaya komunikasi melalui telepon satelit maupun jalur perusahaan pelayaran tidak membuahkan hasil.
“Terakhir dia telepon, suaranya sudah lemah. Bilang badannya sakit semua, susah makan. Sekarang kami dapat kabar dari teman sekapal, kondisinya tambah parah,” ujar salah satu anggota keluarga yang enggan disebutkan namanya.
Proses pembebasan kapten asal Gowa ini disebut-sebut masih alot. Para perompak dilaporkan meminta tebusan dalam jumlah besar, sementara pihak perusahaan pelayaran dan pemerintah Indonesia belum memberikan kepastian mengenai langkah negosiasi lanjutan.
Keluarga mengaku hanya bisa menunggu dan berharap ada titik terang. Mereka mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri untuk mengintensifkan komunikasi dengan otoritas Somalia maupun perusahaan tempat korban bekerja.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI mengenai perkembangan kasus penyanderaan warga negara Indonesia (WNI) di Somalia. Keluarga korban berencana mendatangi kantor perwakilan perusahaan pelayaran di Makassar untuk mendesak transparansi proses negosiasi.
Kasus penyanderaan kapten kapal asal Gowa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pelaut Indonesia yang bekerja di jalur perairan rawan konflik, termasuk Teluk Aden dan Samudra Hindia. Perompak Somalia masih menjadi ancaman nyata bagi kapal-kapal niaga yang melintasi kawasan tersebut.