SULAWESI SELATAN — Kepastian ini menjadi kabar lega bagi konsumen di tengah ketidakpastian pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah. Sepanjang pekan lalu, tidak ada satu pun operator yang mengumumkan perubahan harga, baik kenaikan maupun penurunan, untuk seluruh jenis produk mereka.
Di SPBU Pertamina, harga BBM bersubsidi dan non-subsidi masih sama seperti pekan sebelumnya. Solar subsidi dibanderol Rp6.800 per liter, sementara Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Untuk produk non-subsidi, Pertamax dijual Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter, dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter. Adapun Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing dipatok Rp23.000 per liter dan Rp24.800 per liter.
Sementara itu, Shell masih mempertahankan harga Shell V-Power Diesel di angka Rp24.490 per liter. Namun, konsumen belum bisa membeli Shell Super, Shell V-Power, maupun Shell V-Power Nitro+ karena ketiga produk tersebut belum tersedia di seluruh jaringan SPBU Shell hingga saat ini.
Kondisi serupa terjadi di SPBU milik BP-AKR. Harga BP 92 masih Rp16.670 per liter, BP Ultimate Rp17.240 per liter, dan BP Ultimate Diesel Rp25.060 per liter. Di jaringan Vivo, Revvo 95 dibanderol Rp17.240 per liter, sedangkan Diesel Primus dijual Rp25.060 per liter. Produk Revvo 92 juga masih belum tersedia di pasaran.
Belum berubahnya harga BBM di berbagai SPBU menunjukkan bahwa para operator masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari sejumlah faktor eksternal. Pergerakan harga minyak mentah dunia, ketegangan geopolitik global, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi variabel utama yang memengaruhi keputusan penetapan harga energi di dalam negeri.
Dengan harga yang masih stabil, masyarakat dapat memperkirakan pengeluaran bahan bakar tanpa adanya tambahan beban biaya setidaknya hingga pertengahan Juni 2026. Para analis memperkirakan, jika tekanan global mereda, bukan tidak mungkin harga BBM non-subsidi justru berpotensi turun pada bulan depan.