SULAWESI SELATAN — Komisi disiplin independen memvonis Everton harus membayar ganti rugi sebesar hampir £40 juta plus bunga kepada Burnley. Keputusan ini keluar setelah Burnley mengajukan gugatan atas pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR) yang dilakukan The Toffees pada musim 2021/22.
Burnley finis di posisi 18 dan terdegradasi pada akhir musim tersebut. Klub asal Lancashire itu berargumen bahwa Everton mendapat keuntungan kompetitif yang tidak adil dengan membelanjakan uang melebihi batas yang diizinkan.
Lebih dari itu, Burnley berhasil membuktikan bahwa jika pengurangan enam poin yang dijatuhkan kepada Everton secara retrospektif diterapkan pada musim 2021/22, maka justru Everton yang akan turun kasta. Klub Merseyside itu pun harus merasakan bermain di Championship selama musim 2022/23.
"Keputusan ini adalah momen penting dalam regulasi keuangan Premier League," ujar James Philippsohn, Associate di Quillon Law. "Dengan berhasil menerapkan prinsip 'loss of chance', Burnley telah membuka jalur litigasi yang mengubah pelanggaran PSR dari sekadar sanksi olahraga menjadi peristiwa tanggung jawab perdata."
Preseden yang diciptakan oleh putusan senilai £40 juta ini akan mengubah profil risiko bagi klub-klub yang selama ini menganggap sanksi pengurangan poin sebagai risiko yang bisa ditoleransi. Kini, konsekuensi finansial langsung mengancam setiap pelanggaran aturan keuangan.
Philippsohn menambahkan, "Hadiah £40 juta akan memfokuskan pikiran semua pihak, dan semua mata kini beralih ke proses hukum Manchester City. Eksposur kompensasi agregat dari banyak klub penggugat bisa melampaui apa pun yang pernah terlihat dalam hukum olahraga domestik, jika City terbukti melanggar aturan."
Manchester City saat ini menghadapi 115 dakwaan pelanggaran keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian besar dakwaan tersebut berkaitan dengan periode antara 2009 hingga 2018, di mana klub tersebut memenangkan tujuh trofi utama, atau sembilan jika termasuk Community Shield.
Jika City dinyatakan bersalah, gelombang gugatan dari klub-klub rival diprediksi akan mengalir deras. Klub-klub tersebut bisa menuntut kompensasi atas gelar juara yang hilang, pendapatan Liga Champions, hingga kelangsungan hidup di Premier League yang gagal mereka raih.
Meski Everton telah mengajukan banding atas putusan ini dan menyebutnya sebagai keputusan yang 'cacat fundamental', dampak hukum dari kasus ini telah terlanjur membentuk preseden baru. Liga Inggris kini memasuki era di mana pelanggaran keuangan tidak hanya berakhir di meja sidang disiplin, tetapi juga di pengadilan perdata dengan angka kompensasi yang mencengangkan.