Cuplikan berdurasi beberapa menit itu memperkenalkan Jun Aslan, seorang salvager luar angkasa kelas teri yang kebetulan memiliki gen khusus. Lewat sebuah sarung tangan upgradeable, Jun bisa mengeluarkan berbagai kemampuan unik — mirip biotics-nya Commander Shepard, bedanya Jun bukan tentara elite, melainkan pecundang yang terjebak situasi besar.
Sepanjang petualangan, pemain akan dihadapkan pada pilihan moral klasik: selamatkan warga sipil dengan risiko lebih besar, atau ledakkan airlock demi efisiensi — yang ujung-ujungnya membunuh semua orang. Keputusan ini menentukan alignment karakter: Paladin (baik) atau Immortal (egois). Sistem ini, lagi-lagi, sangat mirip Paragon/Renegade dari Mass Effect.
Archetype Entertainment memperkenalkan lima karakter pendamping dalam cuplikan tersebut. Phaedra Nath, arkeolog alien yang cemas, diposisikan sebagai Liara T'Soni versi gelisah. Tom Vargas, pria dewasa berhati-hati, sangat mengingatkan pada Kaidan Alenko. Elise Charrous, pilot mech bertato, adalah Jack dengan rambut rapi.
Salt, gurita cerdas yang sudah terbangun kesadarannya, disebut sebagai perpaduan Mordin Solus dan HK-47 dari Star Wars: Knights of the Old Republic. Houston, serigala cerdas, adalah Wrex versi anjing. Satu-satunya karakter yang tidak mudah ditebak adalah CC Orlev — "space cowboy" misterius yang disuarakan Matthew McConaughey. Beberapa spekulasi menyebut ia mirip Ben Kenobi, tapi ada juga yang berharap ia menjadi Garrus-nya Exodus.
Kekecewaan mulai terasa ketika Exodus beralih dari teaser Mara Yama tahun 2024 yang atmosferik dan mencekam — soal alien pemakan pikiran dan eksploitasi manusia terhadap yang lemah — menjadi cuplikan gameplay yang aman dan terlalu familiar. "Dulu menarik dan berbobot. Sekarang? Ya, seperti Mass Effect," tulis salah satu jurnalis yang meliput acara tersebut.
Namun, ini bukan vonis final. Exodus masih dalam pengembangan hingga awal 2027. Archetype Entertainment masih punya waktu hampir dua tahun untuk menunjukkan apa yang benar-benar membedakan game ini dari pendahulunya. Salah satu elemen yang menjanjikan adalah konsep time dilation: beberapa jam di satu tempat bisa berarti bertahun-tahun atau dekade di tempat lain. Ini disebut akan memainkan peran besar dalam narasi utama.
Kota hub bernama Persepolis juga sempat diperlihatkan — tempat manusia dan makhluk cerdas (Awakened) berkumpul. Tapi tanpa sentuhan orisinal yang kuat, Exodus berisiko menjadi Mass Effect: Andromeda kedua: game yang secara teknis baik, tapi gagal meninggalkan kesan.