Bagi sebagian besar pemain, kabar ini mungkin tidak mengejutkan. The Elder Scrolls: Blades nyaris tak pernah disebut dalam percakapan komunitas game sejak perilisannya. Game yang tersedia di Android, iOS, dan Nintendo Switch itu hanya meraih skor pengguna 2,7 dari 10 di Metacritic. Angka yang mencerminkan betapa cepatnya game ini tenggelam.
Bethesda memberi tenggat hingga 30 Juni 2026 sebelum server game dimatikan total. Selama periode transisi ini, seluruh item di dalam game—biasanya berbayar—kini bisa didapatkan dengan harga satu permata atau satu segel. Semua pemain juga mendapatkan paket permata dan segel gratis secara otomatis.
Ini adalah upaya terakhir untuk memberikan akses kepada pemain setia yang masih bertahan. Namun pertanyaan besarnya tetap sama: ke mana perginya uang yang sudah dikeluarkan pemain untuk pembelian dalam aplikasi?
Penutupan Blades bukanlah kasus pertama. Belakangan, game seperti Concord dan Highguard juga mengalami nasib serupa—dimatikan tanpa menyisakan cara bagi pemain untuk mengaksesnya kembali. Inilah yang mendorong kampanye Stop Killing Games, sebuah inisiatif yang mencegah penerbit merilis game hanya untuk menutupnya di kemudian hari tanpa opsi preservasi.
Adam, kontributor Windows Central yang melaporkan berita ini, menekankan bahwa meskipun sebuah game tidak sukses secara komersial, tetap ada pemain yang telah menginvestasikan uang dan waktu. "Saya tidak bisa berkomentar banyak soal Blades karena saya sendiri belum pernah memainkannya," tulisnya. "Tapi saya tetap kecewa ketika akses ke game menghilang begitu saja."
Bethesda sebenarnya bukan satu-satunya studio besar yang mencoba peruntungan di pasar mobile. Microsoft misalnya, sempat merilis Halo: Spartan Assault dan Halo: Spartan Strike untuk perangkat genggam. Keduanya tidak revolusioner, tapi setidaknya masih bisa dimainkan hingga sekarang.
Blades berbeda. Game ini dirancang khusus untuk mobile dengan mekanisme free-to-play yang agresif—model yang justru menjadi bumerang. Alih-alih memperkenalkan Elder Scrolls ke audiens baru, game ini justru mengasingkan penggemar lama dan gagal menjaring pemain kasual.
Penutupan ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua eksperimen berbuah manis. Bethesda patut diapresiasi karena berani keluar dari zona nyaman, tapi kegagalan Blades menunjukkan bahwa formula sukses di konsol belum tentu bekerja di layar sentuh.
Bagi pemain Indonesia yang mungkin masih menyimpan Blades di ponsel mereka, waktu untuk menikmati game ini tinggal enam bulan. Setelah Juni 2026, game ini tidak akan bisa dimainkan sama sekali—bahkan dalam mode offline sekalipun, karena semua data tersimpan di server.
Ini adalah kasus klasik yang menunjukkan risiko kepemilikan game digital. Tidak seperti kaset atau CD yang bisa disimpan seumur hidup, game online bisa lenyap kapan saja. Kampanye Stop Killing Games mungkin terdengar seperti urusan barat, tapi dampaknya langsung terasa di kantong pemain di mana pun, termasuk Indonesia.