SULAWESI SELATAN — Gubernur Maluku Utara Sherly Djoanda mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi daerahnya pada kuartal I-2026 mencapai 19,64 persen, masih menjadi yang tertinggi secara nasional. "Sebagian besar dari industri hilirisasi, khususnya di nikel," katanya.
Di kawasan IWIP, sekitar 85 persen tenaga kerja kini berasal dari Maluku Utara. Sherly mendorong agar masyarakat lokal tak hanya menjadi buruh, tetapi juga menguasai teknologi pengolahan dan pemurnian nikel. "Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang kita tinggalkan bagi masyarakatnya," ujarnya.
Pemerintah provinsi juga menyiapkan petani, peternak, dan nelayan agar produk mereka bisa diserap industri. Pasokan beras, telur, hingga ikan ditargetkan dari masyarakat setempat.
Ahmad Fikri Susanto, perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, menilai pembeli global kini tak cukup dengan angka produksi. "Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana masyarakat turut merasakan manfaat pembangunan," kata Fikri yang juga Direktur BYD Haka Auto.
Bernardino Vega, Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, menambahkan bahwa kepatuhan terhadap kriteria ESG (lingkungan, sosial, tata kelola) kini menjadi prasyarat investasi. Data menunjukkan investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia melonjak 208 persen antara 2019 dan 2022, dari US$3,56 miliar menjadi US$10,96 miliar. "Perusahaan yang mampu menunjukkan kinerja ESG kredibel akan memperoleh investasi jangka panjang," tegasnya.
North Maluku Sustainability Trip menghadirkan organisasi seperti Nickel Institute, ICMM, IRMA, Global Battery Alliance, Glencore, dan GIZ. Peserta meninjau area pertambangan PT Weda Bay Nickel serta fasilitas pengolahan, pusat riset, hingga rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik di IWIP.
Presiden Direktur PT IWIP, Kevin He, menegaskan bahwa pertumbuhan industri membawa tanggung jawab besar. "Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Ekspansi industri harus menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat lokal," ujarnya.
Sebagai simbol komitmen, peserta juga menanam mangrove di kawasan tersebut. Maluku Utara, yang memiliki cadangan nikel signifikan—Indonesia menguasai 44,3 persen cadangan global atau 62 juta ton per 2026—kini ingin menjadi referensi global bagi praktik hilirisasi yang berkelanjutan dan terintegrasi.