Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS Pagi Ini, Menkeu Purbaya Siapkan Intervensi di Pasar Obligasi

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 15:50:19 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp17.609 per dolar AS pagi ini di tengah penguatan dolar.

JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Berdasarkan data pasar Investing.com, Jumat (15/5/2026) pukul 09.11 WIB, nilai tukar garuda terpantau di posisi Rp17.609 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 111,5 poin atau 0,64 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi berbarengan dengan penguatan Indeks Dolar AS yang naik 0,26 persen ke level 98,987. Mata uang Negeri Paman Sam tengah perkasa setelah data inflasi dan penjualan ritel AS terbaru memicu ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan akhir tahun ini.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Kembali Menguat

Para pelaku pasar meningkatkan taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga setelah laporan ekonomi AS pekan ini. Alat CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga kembali membesar, sementara kemungkinan penurunan suku bunga nyaris hilang. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi katalis positif bagi dolar AS.

Selain faktor domestik AS, kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok juga menjadi perhatian. Pelaku pasar berharap pertemuan tersebut menghasilkan terobosan di bidang perdagangan, kecerdasan buatan, hingga isu geopolitik terkait Iran. Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah turut menekan ekonomi global dan memperkuat posisi dolar sebagai aset safe haven.

Langkah Pemerintah: Menkeu Aktifkan Bond Stabilization Fund

Menghadapi tekanan ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak tinggal diam. Ia menyiapkan intervensi di pasar obligasi negara (SBN) untuk meredam gejolak nilai tukar. Instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) akan diaktifkan agar imbal hasil (yield) obligasi tidak meroket dan tetap menarik bagi investor.

“Gunakan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan,” ucap Purbaya, Jumat (15/5/2026).

Meski rupiah terdepresiasi, Menkeu meyakini keuangan negara tetap aman. Pemerintah telah menghitung simulasi efek kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah ke dalam APBN hingga akhir tahun. Purbaya tetap menyerahkan solusi utama penanganan nilai tukar kepada Bank Indonesia selaku otoritas moneter. Kemenkeu hanya akan membantu secara bertahap melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak 13 Mei 2026.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

Langkah intervensi di pasar obligasi diharapkan bisa menahan arus keluar modal asing dan menjaga kepercayaan pasar. Namun, pergerakan rupiah ke depan masih sangat tergantung pada sikap The Fed dan perkembangan geopolitik global. Pelaku pasar kini menanti data ekonomi AS berikutnya serta hasil pertemuan Trump dengan pemimpin Tiongkok yang bisa mengubah arah sentimen pasar secara tiba-tiba.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top