SULAWESI SELATAN — Rupiah mencatatkan level terendahnya di Rp17.503 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, menurun 89 poin atau 0,52 persen dari sesi sebelumnya. Pembukaan pagi menunjukkan rupiah berada di Rp17.489, yang juga mencerminkan pelemahan sebesar 75 poin atau 0,43 persen.
Menurut analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, ada beberapa faktor yang mengakibatkan depresiasi rupiah. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada pasar. Kedua, harga minyak mentah yang masih tinggi memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analisis tambahan menunjukkan bahwa pengumuman dari MSCI diharapkan tidak memberikan kabar baik bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini. “Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini,” ujar Lukman. Proyeksi untuk rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada sesi ini.
Dengan terus melemahnya rupiah dan dampak negatif dari faktor eksternal, investor diharapkan untuk tetap waspada terhadap perubahan yang dapat terjadi dalam waktu dekat. Data penjualan ritel yang akan dirilis dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kesehatan ekonomi domestik dan respons pasar terhadap kondisi yang ada.