Pemerintah Kota Makassar mengerahkan tim arborist untuk menata dan menyelamatkan ekosistem pohon di area proyek revitalisasi, memastikan setiap pohon mendapat penanganan sesuai kondisi dan karakteristiknya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Helmy Budiman menyatakan pelibatan ahli arborist diperlukan karena pohon di kota umumnya terdiri dari pohon tua dan pohon baru dengan perawatan berbeda. Langkah ini menyasar kawasan depan Karebosi yang dinilai berpotensi membahayakan warga.
MAKASSAR — Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar melibatkan ahli arborist dalam penataan pohon di area proyek revitalisasi. Pelibatan ini bertujuan memastikan setiap pohon ditangani sesuai kondisi serta karakteristiknya masing-masing.
Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman menjelaskan, pohon-pohon di kawasan kota terdiri dari pohon tua dan pohon baru. Perbedaan usia dan kondisi itu membuat perlakuan terhadap setiap pohon tidak bisa disamaratakan.
"Yang pasti, ahli Arborist itu tahu apa yang harus dilakukan. Setiap pohon punya karakteristiknya sendiri karena ada banyak pohon tua dan pohon baru dimana penanganannya pasti itu berbeda. Makanya, ahlinya dilibatkan," ujar Helmy di Makassar.
Ketapang Kencana di Depan Karebosi Jadi Perhatian Utama
Perwakilan arborist, Faris, menuturkan penggantian sejumlah pohon—terutama ketapang kencana di kawasan depan Karebosi—bukan semata-mata karena ukurannya besar. Persoalan utamanya adalah kondisi beberapa pohon dan potensi konflik sistem perakaran dengan infrastruktur serta jaringan utilitas di kawasan pedestrian.
Faris menyebut ada pohon yang kondisinya sudah memiliki banyak rongga dan kemiringan sekitar 40 derajat. Kondisi itu perlu mendapat perhatian karena berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas dan berolahraga di sekitar Karebosi.
"Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja," ujar Faris.
Mengapa Akar Ketapang Kencana Berisiko ke Drainase
Karakter akar ketapang kencana yang tumbuh cepat ketika mendapat sumber air dan nutrisi dari sistem drainase menjadi pertimbangan lain. Jika pohon itu tetap dipertahankan dengan sistem drainase baru, akar berpotensi masuk ke jaringan tersebut.
Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan drainase tersumbat dan meningkatkan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur.
"Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada," jelas Faris.
Pohon Natif Sulawesi Jadi Opsi Pengganti
Opsi yang didorong bukan menghilangkan fungsi penghijauan, melainkan mengganti jenis pohon dengan tanaman yang lebih sesuai karakter kawasan. Pohon pengganti akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif, termasuk pohon natif Indonesia yang punya keterkaitan kuat dengan ekosistem maupun budaya Sulawesi.
Faris menyebut sejumlah pohon natif Sulawesi yang dapat menjadi pilihan. Salah satunya pohon bitti atau Vitex cofassus yang memiliki nilai kultural kuat di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu pembuatan kapal pinisi, termasuk untuk bagian utama kapal.
Pilihan lainnya adalah padiasa atau Kleinhovia hospita yang juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Selain itu, terdapat Elaeocarpus atau jenis pohon yang dikenal dengan nama jati tri/jelatri sebagai alternatif vegetasi.
Penataan pohon di kawasan revitalisasi ini menempatkan aspek keselamatan warga sebagai pertimbangan utama, seiring upaya menjaga fungsi penghijauan kota lewat jenis tanaman yang lebih sesuai dengan karakter kawasan.