SULAWESI SELATAN — Montreal di Quebec, Kanada, kini jadi tujuan favorit pelancong berpantang gluten berkat deretan bakery dan restoran khusus yang menawarkan croissant hingga ayam rotisserie tanpa gandum. Boulangerie Le Marquis di dekat Jean-Talon Market dan Rôtisserie Coco Rico di Plateau jadi dua nama yang paling sering direkomendasikan. Kota berbahasa Prancis ini memang serius soal makanan, termasuk bagi mereka yang harus menghindari gluten.
Bagi penyandang celiac atau siapa pun yang menjalani diet bebas gluten, bepergian ke kota yang terkenal dengan poutine, bagel, dan sandwich smoked meat seperti Montreal memang menantang. Namun dua tahun terakhir, sejumlah usaha kuliner di kota ini membuktikan bahwa makan enak tanpa gluten bukan berarti kompromi.
Croissant bebas gluten termasuk pastry paling sulit dibuat karena proses laminasi adonan. Boulangerie Le Marquis di dekat Jean-Talon Market dan Le Marquis Signature Santé di Old Montreal berhasil menguasainya.
Pains au chocolat dan croissant gluten-free tersedia dalam varian plain, almond, dan chocolate-almond, keluar hangat dari oven sepanjang pagi. Varian almond croissant jadi favorit banyak pelanggan.
Di Plateau, La Bolo à Lolo menawarkan manouché gluten-free yang unik. Chef sekaligus pemilik Gordy Moufarrej, yang pindah dari Lebanon ke Montreal saat masih kecil, memakai za'atar buatan ibunya sebagai topping flatbread dengan campuran tepung gluten-free racikannya sendiri.
Sandwich dengan basis adonan sama juga tersedia, tapi manouché-nya yang paling dicari. Sebagian pelanggan bahkan kembali tiga hari berturut-turut hanya untuk menu ini.
Crêperie du Marché, kios ramai di Jean-Talon Market, menyajikan menu galette Breton berbahan 100 persen buckwheat. Isiannya beragam, dari gurih hingga manis, termasuk kombinasi ham, keju, telur, kentang, dan sedikit sirup maple.
Tidak jauh dari sana, Cantine Panella dikelola chef asal Peru Alessandra Perona. Roti di sini dibuat dari tepung quinoa, singkong, dan ubi jalar yang memberi tekstur kenyal khas. Banyak pelanggan membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang.
Rotisserie ayam jadi salah satu makanan klasik Montreal. Di tempat bergaya Québécois, ayam dipanggang lambat di spit dan disajikan dengan gravy. Di kedai Portugis, ayam dibelah dan dibakar di atas arang lalu disiram saus piri-piri.
Masalahnya, sejumlah establishment legendaris seperti Chalet Bar-B-Q dan Ma Poule Mouillée memakai tepung gandum di sausnya. Alternatifnya ada di Rôtisserie Coco Rico, institusi Plateau yang buka sejak 1970.
Ayam di Coco Rico dipanggang spit dan disajikan dengan piri-piri gluten-free, memadukan dua gaya lokal. Kentang gorengnya digoreng di fryer khusus bebas gluten dan termasuk yang terbaik di kota. Kentang panggangnya juga tidak boleh dilewatkan karena menyerap penuh rasa ayam.
Rôtisserie La Lune di Little Italy datang dari tim di balik restoran dan wine bar populer Mon Lapin. Ayamnya gemuk dan menggugah selera, disajikan dengan gravy gluten-free serta kentang goreng dari fryer khusus.
Fryer yang sama menghasilkan Croqu'Ailes Farcies XL, sayap ayam tanpa tulang yang diisi daging ayam lalu digoreng. Menu ini sebaiknya jadi pembuka di setiap kunjungan.
Dapur La Lune juga piawai mengolah salad musiman dan lauk berbasis sayur, hampir selalu gluten-free, sebagai penyeimbang di meja.
Mon Lapin, yang berada di jalan yang sama dengan La Lune, melengkapi peta kuliner bebas gluten Montreal. Wine bar ini jadi tempat makan malam yang nyaman bagi pelancong yang ingin menikmati hidangan pendamping anggur tanpa khawatir soal gluten.
Datang lebih pagi ke Boulangerie Le Marquis jika ingin croissant dalam kondisi paling hangat. Untuk manouché di La Bolo à Lolo, siapkan waktu antre karena tempat ini kecil dan populer.
Selalu konfirmasi langsung ke staf soal fryer khusus dan bahan saus, karena praktik dapur bisa berubah. Informasi menu dan jam buka terbaru sebaiknya dicek via kanal resmi masing-masing usaha sebelum berangkat.
Montreal membuktikan kota dengan tradisi kuliner berbasis gandum pun bisa jadi tujuan ramah bagi pelancong bebas gluten. Alokasikan minimal tiga hari agar bisa mencicipi bakery, rotisserie, dan wine bar dalam satu perjalanan.