SULAWESI SELATAN — Pendiri sekaligus mantan CEO Foursquare, Dennis Crowley, menyatakan para pemegang saham tidak memperoleh imbal hasil apa pun dari akuisisi perusahaan oleh Infillion. Foursquare yang telah mengumpulkan pendanaan lebih dari USD 411 juta menurut data PitchBook resmi diambil alih perusahaan periklanan Infillion pada bulan lalu dengan nilai yang tidak diungkap. Pengakuan Crowley menjadi cermin pahit bagi startup lokasi yang pernah jadi pionir jejaring sosial berbasis tempat.
Dennis Crowley menyampaikan hal itu melalui unggahan blog pribadinya setelah akuisisi rampung. Ia merujuk pada tulisan seorang angel investor dan menyimpulkan bahwa pemegang saham preferen maupun saham biasa sama-sama tidak mendapatkan nilai dari transaksi tersebut. Crowley mengaku kecewa dengan akhir perjalanan perusahaan yang ia bangun bersama ribuan orang.
Dalam unggahannya, Crowley menuliskan kekecewaannya secara terbuka. Ia menyebut banyak pihak telah mencurahkan waktu, energi, dan passion untuk membangun Foursquare, mulai dari produk, merek, hingga budaya perusahaan.
"I was heartbroken by this ending. So many people put so much time and energy and passion and love into building Foursquare – the company, the products, the brand, the culture," tulis Crowley dalam unggahan blognya.
Ia secara khusus menyapa sekitar 1.600 mantan karyawan yang pernah bekerja di Foursquare selama 17 tahun. Crowley menyatakan penyesalannya karena kisah Foursquare berakhir seolah seluruh upaya kolektif itu tidak bernilai sama sekali.
Foursquare mencatat pendanaan lebih dari USD 411 juta berdasarkan data PitchBook. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu startup lokasi dengan modal terbesar pada masanya. Aplikasi Foursquare sendiri akhirnya ditutup pada 2024.
Setelah beralih fokus ke bisnis enterprise, Crowley menyebut perusahaan membukukan pendapatan di atas USD 100 juta selama beberapa tahun berturut-turut. Pada 2019, Foursquare memperoleh suntikan modal dari firma private equity. Dua tahun berselang, bankir yang memimpin penggalangan dana tersebut diangkat menjadi CEO.
Crowley menuding transisi kepemimpinan itu sebagai biang keladi hasil akhir akuisisi. Menurutnya, manajemen saat itu gagal mempertahankan maupun menciptakan nilai baru bagi perusahaan.
Infillion mengakuisisi Foursquare pada bulan lalu dengan nilai yang tidak diungkap ke publik. Perusahaan periklanan itu mengambil alih platform data lokasi yang dulu sempat populer sebagai jejaring sosial. Tidak ada keterangan resmi soal struktur pembayaran maupun regulator yang menyetujui transaksi.
Keputusan menjual aset tanpa imbal hasil bagi pemegang saham equity menjadi sorotan tersendiri di kalangan pelaku startup. Kasus semacam ini lazim disebut sebagai akuisisi tanpa nilai bagi investor awal yang menanggung risiko terbesar.
Sejumlah pengguna merespons unggahan Crowley dengan mengenang manfaat Foursquare. Mereka menyebut aplikasi itu sangat membantu menemukan tempat baru di kota masing-masing dan menginspirasi lahirnya aplikasi lain.
Setelah Foursquare, eksplorasi peta sosial dilanjutkan oleh startup seperti Zenly dan Jagat, juga oleh Instagram dan Snapchat. Foursquare disebut-sebut sebagai pelopor fitur check-in dan rekomendasi tempat berbasis lokasi yang kini jadi standar di banyak platform.
Bagi ekosistem startup Indonesia, kasus Foursquare memperlihatkan bahwa pendanaan besar tidak menjamin imbal hasil bagi investor saat perusahaan dijual. Struktur kepemilikan saham dan keputusan manajemen di fase akhir menjadi penentu apakah nilai perusahaan bisa dipertahankan hingga transaksi keluar.