TB Adi Soroti Ketergantungan Indonesia pada Cabor Andalan di Asian Games 2026

Penulis: Luqman Arif  •  Selasa, 29 September 2026 | 19:07:01 WIB
Kontingen Indonesia meraih tiga emas, lima perak, dan 20 perunggu di Asian Games Aichi-Nagoya hingga Selasa (29/9/2026).

SULAWESI SELATAN — Kontingen Indonesia mengoleksi tiga medali emas, lima perak, dan 20 perunggu hingga Selasa (29/9/2026) di Asian Games Aichi-Nagoya, Jepang. Pengamat olahraga nasional TB Adi menilai perolehan itu belum lepas dari ketergantungan pada bulutangkis, angkat besi, dan panjat tebing sebagai tambang medali utama.

Medali emas ketiga Indonesia disumbangkan pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dari cabang bulutangkis. Leo/Daniel menaklukkan pasangan China, Liang Weikeng/Wang Chang, lewat pertarungan tiga gim dengan skor 19-21, 21-13, 21-18.

Raihan Indonesia masih tertinggal dari dua pesaing Asia Tenggara. Thailand memimpin dengan sembilan emas, tujuh perak, dan 11 perunggu, sementara Malaysia mengoleksi enam emas, empat perak, dan delapan perunggu.

Panjat Tebing Jadi Harapan Tambahan Emas

TB Adi berharap peluang Indonesia menambah emas masih terbuka, terutama dari panjat tebing yang mulai dipertandingkan Selasa (29/9) hingga Sabtu (3/10). Cabang itu selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang medali andalan Indonesia di level internasional.

"Saya berharap ada tambahan medali emas lagi dari panjat tebing yang mulai bertanding hari ini hingga Sabtu nanti," ujar TB Adi saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa (29/9/2026).

35 Cabor, 432 Atlet, Target Hanya Empat Emas

Jurnalis senior yang lama meliput olahraga nasional itu meminta capaian kontingen tidak hanya diukur dari jumlah medali. Menurutnya, perlu evaluasi menyeluruh terhadap cabor yang belum mampu menyumbang medali.

Indonesia mengirimkan 432 atlet yang tampil di 35 cabang olahraga, dengan target yang dipatok hanya empat medali emas. Ketimpangan antara jumlah atlet yang diberangkatkan dan target perolehan itu dinilai perlu dipertanggungjawabkan, terutama dari sisi penggunaan anggaran negara.

"Bayangkan, 35 cabang olahraga dengan jumlah 432 atlet yang berlaga, kita hanya menargetkan empat emas. Dari sisi anggaran, dengan kondisi efisiensi seperti sekarang ini tentunya sangat besar. Karena itu, cabang olahraga yang belum berhasil menyumbangkan medali seharusnya segera melakukan evaluasi setelah Asian Games ini," tegasnya.

Bulutangkis, Angkat Besi, Panjat Tebing Jadi Tumpuan

TB Adi menyebut pola pembinaan olahraga nasional masih terlalu bertumpu pada sejumlah cabor tertentu. Bulutangkis, angkat besi, dan panjat tebing menjadi tiga cabang yang paling sering diandalkan dalam perburuan medali di ajang internasional.

Ia menilai ketergantungan itu harus diakhiri dengan pembinaan yang lebih merata. Sejumlah cabang mulai menunjukkan tanda kebangkitan, seperti teqball yang meraih perak, serta wushu dan soft tenis yang turut menyumbang medali.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan ketiga cabang olahraga itu sebagai tambang medali emas. Cabang olahraga lainnya juga harus bangkit prestasinya. Teqball misalnya, sudah mulai menunjukkan sinarnya dengan meraih perak. Begitu juga wushu, soft tenis dan lainnya yang mulai mampu menyumbangkan medali," katanya.

Menurut TB Adi, capaian itu tidak boleh berhenti pada perak dan perunggu. Setiap cabor perlu memiliki program pembinaan jangka panjang yang terukur agar peluang meraih emas pada kejuaraan berikutnya semakin terbuka.

Evaluasi Berbasis Data, Bukan Sekadar Laporan

TB Adi meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tidak sekadar menerima laporan hasil pertandingan dari setiap cabor. Evaluasi harus dilakukan berdasarkan data, target, dan capaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Segera lakukan evaluasi sepulangnya dari Jepang, terutama bagi cabor-cabor yang gagal. Mereka harus mengukur kembali kemampuan dan program pembinaannya. Jangan sampai sebelum berangkat hanya memberikan masukan kepada Kemenpora tanpa perhitungan yang matang," ujarnya.

Bandingkan dengan Thailand dan Malaysia

Ia membandingkan capaian Indonesia dengan Thailand dan Malaysia yang juga bersaing di kawasan Asia Tenggara. Prestasi Thailand dinilai menunjukkan pentingnya konsistensi pembinaan pada cabang tertentu, termasuk atletik.

TB Adi mencontohkan Puripol Boonson yang meraih emas nomor 100 meter dan 200 meter putra. Malaysia, menurutnya, juga mampu memaksimalkan cabor andalannya, termasuk karate dan e-sport.

"Indonesia tidak boleh hanya terpaku dan berpuas diri dengan hasil di SEA Games. Kalau cabang-cabang olahraga lainnya ingin berprestasi hingga Olimpiade, Asian Games merupakan salah satu tahapan penting menuju prestasi olahraga dunia," tegasnya.

Dualisme Kepengurusan Cabor Jadi Sorotan

Selain persoalan prestasi, TB Adi menyoroti masih adanya dualisme kepengurusan pada sejumlah cabang olahraga. Kondisi itu berpotensi mengganggu konsistensi pembinaan dan berdampak langsung terhadap atlet.

"Dulu ketika saya meliput cabang olahraga pada era 1990-an dan 2000-an, dualisme cabang olahraga tidak seperti sekarang. Kepengurusan cabor begitu kompak," katanya.

Ia mengaku prihatin karena perkembangan teknologi pembinaan olahraga dan bertambahnya tenaga ahli belum diikuti tata kelola organisasi yang solid. Menurutnya, kemajuan perangkat pendukung tidak akan berarti tanpa kepengurusan cabor yang rapi dan kompak.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: nasionalnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top