BONE — Pemerintah Kabupaten Bone membuka peluang menjadikan pesisir Desa Angkue sebagai destinasi wisata baru di Bone Selatan. Kawasan itu dinilai punya modal lengkap: kampung nelayan, pelabuhan, tradisi maritim, dan ekosistem mangrove yang masih terjaga.
Dorongan itu muncul dalam Festival Budaya Maritim Lampu' Toae Zona ke-6 Gau' Maraja 2026 yang digelar di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue, Kecamatan Kajuara. Festival mengangkat tema "Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone" dan dibuka langsung oleh Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin.
Andi Akmal menyatakan kawasan mangrove menjadi salah satu potensi yang paling serius dilirik. Pemerintah Kabupaten Bone berencana memulai rintisan pengembangan wisata mangrove di Angkue pada tahun mendatang.
"Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone," katanya.
Menurutnya, warga pesisir tidak harus selamanya bergantung pada hasil tangkapan ikan. Potensi alam dan lingkungan di desa itu bisa diubah menjadi sumber ekonomi baru lewat sektor pariwisata.
"Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat," ujar Andi Akmal.
Dukungan kelestarian lingkungan datang dari Yayasan Lontara Hijau yang menyerahkan 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah. Penyerahan dilakukan secara simbolis dalam rangkaian festival.
Bibit itu menjadi modal awal menjaga ekosistem pesisir sekaligus membuka jalan wisata berbasis lingkungan. Jika dikelola berkelanjutan, kawasan mangrove Angkue berpotensi menjadi ruang edukasi lingkungan, lokasi rekreasi keluarga, hingga destinasi wisata alam yang melibatkan warga setempat.
Bagi wisatawan, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar pemandangan. Ada cerita budaya, kehidupan nelayan, tradisi lokal, dan ekosistem pesisir yang menyatu dalam satu kawasan.
Festival Maritim Lampu' Toae diselenggarakan Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara Periode 2025–2026, difasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.
Ketua PSBB Bone Sangdara, Wiwin Wahyuni, menyebut pemilihan Lampu' Toae sebagai lokasi festival adalah upaya memperkenalkan kembali kekayaan sejarah dan budaya wilayah Kajuara. Ia berharap generasi muda tidak hanya menonton, tetapi ikut mengenal, merawat, dan meneruskan warisan budaya tersebut.
Suasana festival bertambah semarak dengan pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter oleh masyarakat. Simbol itu menjadi pesan persatuan sekaligus semangat menjaga budaya, lingkungan, dan daerah.
Perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Iswadi, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.
Andi Akmal berharap Festival Lampu' Toae tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau kegiatan seremonial. Menurutnya, festival budaya bisa menjadi pintu masuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Desa Angkue memiliki sejumlah modal yang dapat dirangkai menjadi satu kawasan wisata: Kampung Nelayan Merah Putih, mangrove, pelabuhan, hingga kekayaan budaya masyarakat pesisir. Jika dikembangkan konsisten, kawasan itu dapat menjadi pilihan baru bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pesisir Bone dan mengenal lebih dekat kehidupan nelayan lokal.