Kemenag Sulsel Dorong Ekosistem Kerukunan di Makassar, Target Indeks Kota Toleran Tembus Enam Besar

Penulis: Oman Sudirman  •  Rabu, 02 September 2026 | 13:19:31 WIB
FGD kerukunan umat beragama digelar Kemenag Sulsel di Makassar untuk mendorong sinergi lintas pemangku kepentingan.

MAKASSAR — Ketua Tim Bina Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulsel, Mallingkai Ilyas, menegaskan bahwa capaian indeks bukan tujuan akhir, melainkan alat ukur untuk menghadirkan kehidupan kota yang setara dan inklusif. Ia menyebut, kerja membangun harmoni tidak bisa dibebankan pada satu lembaga saja.

“Kita tidak sedang mengejar angka. Kita sedang membangun masa depan kota. Capaian IKT harus menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya,” ujarnya dalam FGD yang digelar di Makassar, Selasa (1/9/2026).

Makassar Targetkan Enam Besar IKT 2026

Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad, mengapresiasi prestasi Makassar yang pada IKT 2025 berhasil menempati peringkat ke-9 untuk kategori kota berpenduduk di atas satu juta jiwa. Ia optimistis posisi tersebut bisa ditingkatkan pada penilaian berikutnya.

“Jika tahun lalu tembus peringkat 9, semoga ke depan Makassar bisa masuk enam besar, bahkan tiga besar,” kata Arifuddin.

Namun, ia mengingatkan target itu hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan dan strategi yang lebih terukur. FGD yang dihadiri pengurus FKUB, Kesbangpol, pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, penyuluh agama, kepala KUA, hingga jurnalis itu diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemkot.

Peran Media dan Generasi Muda Jadi Kunci

Mallingkai yang juga menjabat Wakil Sekretaris FKUB Sulsel menyoroti peran strategis media dalam membentuk persepsi publik. Ia menilai, pemberitaan yang sehat mampu membangun narasi harmoni di tengah keberagaman, bukan hanya saat konflik terjadi.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembangun narasi harmoni. Praktik baik kerukunan perlu mendapat ruang yang lebih luas, tidak hanya saat terjadi konflik,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa sinergi dengan insan pers juga menjadi benteng efektif menangkal informasi provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat. Selain media, Mallingkai yang merupakan Ketua Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) mendorong keterlibatan aktif generasi muda.

Dari Interaksi Menuju Kolaborasi

Mallingkai mengajak seluruh pihak melangkah lebih jauh dari sekadar dialog dan deklarasi seremonial. Menurutnya, harmoni harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi warga.

“Jangan berhenti pada dialog atau seremoni. Kita harus bergerak dari interaksi menuju kolaborasi, dan dari kolaborasi menuju dampak,” ujarnya.

Ia mencontohkan, tokoh lintas agama dan anak muda dapat bersinergi menangani isu-isu perkotaan seperti lingkungan, kebencanaan, pendidikan, hingga pengentasan kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kebersamaan terasa dalam keseharian masyarakat, bukan hanya wacana.

Hadapi Tantangan di Ruang Digital

Mallingkai mengakui tantangan ke depan tidak ringan, terutama penyebaran hoaks dan polarisasi sosial di ruang digital. Ia mendorong terciptanya ruang kolaborasi bagi pemuda lintas agama untuk mengembangkan proyek bersama, termasuk kampanye digital bernuansa keberagaman.

“Ruang digital sangat menentukan cara generasi muda melihat perbedaan. Karena itu, kita harus hadir dengan narasi yang sejuk, cerdas, dan inspiratif,” tambahnya.

Ia pun menekankan bahwa sejatinya masyarakatlah yang menjalankan kerukunan setiap hari, sementara Kemenag dan FKUB hanya memfasilitasi. “Kalau itu terus dijaga, saya yakin indeks akan mengikuti, bukan sebaliknya,” tandasnya.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: upeks.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top