SULAWESI SELATAN — Kebijakan kontroversial kembali dilontarkan pemerintah Amerika Serikat di tengah harga bensin yang masih tinggi. Menteri Transportasi Sean Duffy secara terbuka menyerukan penghapusan fitur auto start/stop pada mobil baru, sebuah teknologi yang selama ini diandalkan untuk menekan konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang, terutama di perkotaan.
Dalam pidatonya di Sterling Heights, Michigan, pada Senin pekan ini, Duffy mengaku membenci tombol start/stop di mobilnya. Ia berterima kasih kepada direktur badan lingkungan EPA, Lee Zeldin, atas keputusan menghapus teknologi tersebut dari regulasi.
"Anda tahu tombol on/off start/stop di mobil Anda? Saya benci benda itu. Terima kasih Lee Zeldin. Dia telah menyingkirkannya dan mobil pertama tanpa tombol start/stop sudah meluncur dari jalur produksi," ujar Duffy di hadapan para pekerja pabrik, seperti dikutip Jalopnik.
Pernyataan Duffy sebenarnya bukan hal baru. Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) telah mencabut fasilitas pengurangan emisi untuk fitur start-stop otomatis sejak Februari lalu. Kebijakan ini memicu spekulasi bahwa para pabrikan akan berhenti memasang teknologi tersebut demi menekan biaya produksi.
Padahal, fitur yang mematikan mesin saat mobil berhenti di lampu merah ini terbukti efektif. Studi Society of Automotive Engineers (SAE) mencatat penghematan bahan bakar mencapai 7 hingga 26 persen, dengan biaya produksi yang kini hampir tidak signifikan bagi pabrikan.
Meski klaim Duffy menyebut mobil baru sudah meluncur tanpa fitur ini, fakta di lapangan berbeda. Jajak pendapat yang dilakukan media otomotif AS kepada 25 pabrikan terbesar menunjukkan mayoritas justru kaget dengan pernyataan tersebut. Sebagian besar menjawab akan mempelajari regulasi sebelum mengambil keputusan.
Belum ada satu pun pabrikan besar yang mengumumkan penghentian pemasangan start-stop otomatis. Teknologi ini memang sempat tidak disukai sebagian pengguna karena getaran saat mesin menyala kembali, namun manfaat penghematannya sulit digantikan.
Langkah pemerintah Trump ini dibungkus sebagai upaya menurunkan harga mobil yang saat ini rata-rata tembus USD 50 ribu (sekitar Rp 800 juta). Pejabat pemerintahan menilai regulasi efisiensi bahan bakar dan keselamatan menjadi biang keladi mahalnya kendaraan.
Padahal, menghapus fitur irit justru bertentangan dengan kepentingan konsumen di saat harga bensin AS masih tinggi. Kebijakan ini juga memicu perdebatan karena pemerintah memilih mengorbankan regulasi lingkungan di tengah krisis biaya hidup yang mereka sendiri perparah lewat kebijakan tarif dagang.
Penghapusan kredit regulasi memang tidak serta-merta menghapus teknologi start-stop dari semua mobil baru. Namun, insentif yang hilang membuat pabrikan enggan mempertahankan fitur tersebut pada model murah. Jika tren ini berlanjut, konsumen AS harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli BBM, sementara target emisi karbon kian sulit tercapai.