SULAWESI SELATAN — Kesenjangan anggaran yang diungkap BMKG ini mengindikasikan tantangan besar dalam memenuhi target operasional dan pengembangan infrastruktur meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) pada 2027. Teuku Faisal Fathani memaparkan rincian pagu yang tersedia sebesar Rp 2,523 triliun, yang dialokasikan untuk dua program utama.
"Untuk backlog anggaran 2027, berdasarkan Renstra, kebutuhan anggaran BMKG tahun 2027 mencapai Rp 4,649 triliun, sedangkan pagu anggaran yang tersedia adalah Rp 2,523 triliun. Terdapat backlog Rp 2,126 triliun," kata Faisal dalam rapat di gedung DPR.
Lebih lanjut, Teuku Faisal memerinci bahwa pagu yang tersedia akan dioptimalkan untuk menjaga operasional serta memperkuat infrastruktur MKG. Porsi terbesar dialokasikan untuk program dukungan manajemen senilai Rp 1,24 triliun, sementara program MKG mendapatkan alokasi Rp 1,28 triliun.
"Untuk pagu 2027 sebesar Rp 2,523 triliun akan kami optimalkan untuk menjaga operasional, memperkuat infrastruktur MKG, memelihara peralatan operasional, dan meningkatkan kualitas informasi dan peringatan dini," jelasnya.
Di luar pagu standar, BMKG mengandalkan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 273,89 miliar untuk proyek-proyek pembangunan strategis. Faisal menegaskan bahwa sumber dana ini diarahkan pada pengadaan infrastruktur baru yang krusial bagi ketahanan nasional.
"Untuk SBSN dananya sebesar Rp 273,89 miliar, ini untuk berbagai kegiatan terutama pembangunan infrastruktur gedung layanan di 20 lokasi," ungkap Faisal. Salah satu fokus utama adalah pembangunan unit radar baru yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.
"Kemudian juga yang terpenting terkait dengan pembangunan 3 unit radar C-Band di Bali, Aceh, dan di Padang, dan 1 unit radar maritim X-Band di Manado," pungkasnya.
Sementara itu, untuk tahun berjalan, BMKG melaporkan progres positif pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah yang dirancang sebagai upaya dini pengurangan risiko hidrometeorologi ekstrem dan pemenuhan kebutuhan air ini telah menunjukkan realisasi di atas 95 persen.
"Untuk Operasi Modifikasi Cuaca, ini juga terus berjalan untuk aksi dini pengurangan hidrometeorologi ekstrem dan pemenuhan kebutuhan air telah mencapai realisasi di atas 95%," jelas Teuku Faisal di hadapan anggota Komisi V DPR.
Selain OMC, BMKG tercatat tengah menjalankan berbagai program strategis lainnya sepanjang 2026. Program tersebut meliputi Sekolah Lapang Iklim, Sekolah Lapang Gempa Bumi, dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi dinamika cuaca dan bencana geologi.