SULAWESI SELATAN — Epson LifeStudio Grand hadir di pasar global pada akhir 2025 sebagai generasi penerus EpiqVision Ultra LS650. Dari segi nama, produk ini terdengar baru, tetapi secara fisik dan spesifikasi inti, ia adalah penyegaran dari pendahulunya yang dirilis beberapa tahun lalu. Harga jualnya dipatok US$2.699 (sekitar Rp 45 juta) atau Rp 45 jutaan, dengan ketersediaan global mulai musim semi 2026.
Proyektor ini juga mendukung fitur gaming seperti ALLM (Auto Low Latency Mode) dan mode 1080p/120Hz. Epson melengkapi perangkat dengan speaker yang disetel oleh Bose, menggantikan kolaborasi dengan Yamaha pada model sebelumnya.
Salah satu peningkatan paling terasa ada pada sistem operasinya. Google TV di LifeStudio Grand berjalan mulus dan responsif, didukung Wi-Fi 6E yang membuat streaming konten 4K terasa ringan. Perbaikan ini sekaligus menutup kelemahan utama LS650 yang dikenal lambat.
Dari sisi konektivitas, Epson menambah satu port HDMI menjadi total tiga. Penambahan ini memberi ruang lebih bagi pengguna yang ingin menyambungkan perangkat streaming, konsol game, dan soundbar secara bersamaan. Suara kipas juga tidak mengganggu, sebuah peningkatan yang patut diapresiasi.
Sayangnya, desain fisiknya nyaris tidak berubah. Dengan kedalaman 15,7 inci, bodinya lebih dalam dibandingkan kompetitor seperti Hisense PX3-Pro yang hanya 11,7 inci. Ini membuat proyektor menonjol cukup jauh dari meja TV dan mempersulit penempatan soundbar. Remote control yang disertakan pun terasa murah untuk produk seharga Rp 45 jutaan, tanpa lampu latar dan tombol mute.
Kecerahan 3.600 lumen menjadi andalan utama LifeStudio Grand. Di ruangan terang, gambar yang dihasilkan tetap terlihat jelas, terutama untuk konten bergerak cepat seperti berita atau acara olahraga. Ini nilai jual yang sulit ditandingi banyak pesaing di kelas harga yang sama.
Namun, di ruangan gelap, keunggulan itu memudar. Teknologi 3LCD yang digunakan Epson menghasilkan warna yang kurang hidup dibandingkan proyektor laser RGB seperti Hisense PX3-Pro atau Xgimi Aura 2. Gambar juga terlihat sedikit lembut—efek dari teknologi pixel shifting yang tidak sebaik rivalnya dalam menyusun resolusi 4K.
Masalah lain muncul pada pemrosesan gerak (motion interpolation). Pada profil gambar standar, gerakan tangan manusia terlihat tidak natural, bahkan kadang memicu efek stuttering yang mengganggu. Menonaktifkan fitur ini memang membantu, tetapi panning kamera cepat bisa terlihat patah-patah.
Kolaborasi dengan Bose tidak banyak mengubah hasil audio. Soundstage yang dihasilkan tergolong sempit dan kurang detail. Untuk ruangan berukuran 200 kaki persegi (sekitar 18,5 meter persegi), volume 60 persen masih terasa kurang. Saat dinaikkan ke level maksimal, suara cenderung keras dan sedikit kasar di frekuensi tinggi. Penggemar film atau game sebaiknya tetap menyiapkan soundbar atau sistem audio eksternal.
Latensi saat bermain game juga masih terasa. Meski sudah ada mode ALLM, jeda input masih cukup terasa untuk game action yang menuntut refleks cepat. Ini membuatnya kurang ideal untuk gamer kompetitif.
Epson LifeStudio Grand adalah pilihan masuk akal jika Anda sangat terganggu oleh efek pelangi (rainbow effect) pada proyektor DLP dan lebih sering menonton di ruangan terang. Kecerahan 3.600 lumen adalah kompensasi utama atas kekurangan warna dan ketajaman gambar.
Namun, jika Anda menonton di ruangan gelap atau membutuhkan proyektor untuk gaming, ada alternatif lebih menarik. Hisense C2 Ultra, misalnya, menawarkan laser RGB 3.000 lumen dengan harga lebih murah dan kualitas gambar superior. Dengan selisih dana yang ada, Anda bahkan bisa membeli soundbar tambahan untuk pengalaman menonton yang lebih memuaskan.