MAKASSAR — Ichwan Persada, sutradara sekaligus produser film Solata, dinobatkan sebagai Tokoh Budaya Sulsel 2026 dalam sebuah acara penganugerahan yang digelar di BikinBikin Creative Hub, Nipah Mal Makassar, Sabtu (29/08). Pria yang juga aktif sebagai produser film panjang sejak 2011 ini mengaku tidak pernah menyangka namanya masuk dalam daftar nominasi penghargaan tersebut.
“Ini adalah salah satu penghargaan terbesar dalam hidup saya selama menjalani karir sebagai sutradara/produser film. Saya tidak pernah berpikir untuk membuat film spesifik tentang budaya masyarakat tertentu. Hanya saja mungkin panitia melihat apa yang saya lakukan masuk kategori dan akhirnya semalam saya diumumkan terpilih bersama sejumlah tokoh lainnya,” ujarnya saat ditemui setelah acara.
Sepanjang kariernya memproduseri film layar lebar, Ichwan mengaku baru dua kali menangani produksi yang berlatar di Sulawesi Selatan. Keduanya justru lahir dari kegelisahan sosial, bukan niat eksplisit untuk mengangkat budaya.
Film pertama berjudul Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui yang tayang di bioskop pada Januari 2018. Film ini mengambil latar kawasan karst Rammang-Rammang, Maros, dan mengangkat persoalan pernikahan beda agama yang kerap memicu konflik di masyarakat.
Karya kedua adalah Solata (Teman Adalah Keluarga Yang Kita Pilih) yang baru rilis di bioskop pada November 2025. Film ini berlatar di lembah Ollon, Tana Toraja, dan menyoroti persoalan akses pendidikan di daerah pedalaman.
Ichwan menegaskan bahwa produksi film yang ia garap tidak pernah berangkat dari keinginan untuk mengejar keuntungan semata. Justru sebaliknya, ia mengaku terdorong oleh keresahan melihat kondisi sosial di kampung halamannya.
“Saya membuat Silariang karena gelisah melihat kampung halaman saya selalu diidentikkan dengan kekerasan. Dan saya membuat Solata karena gelisah melihat kondisi pendidikan terutama di pedalaman. Jadinya nggak ada niat sama sekali membuat film berlatar budaya,” jelasnya.
Menurut Ichwan, jika budaya dalam film-filmnya terlihat tergarap dengan baik, hal itu terjadi karena ia menempatkan latar bukan sekadar pelengkap cerita. “Kami ingin menempatkan latar film bukan sekedar pelengkap tapi bagian penting dari cerita,” tambahnya.
Penghargaan Tokoh Budaya Sulsel 2026 ini melengkapi deretan prestasi Ichwan di industri perfilman nasional dan internasional. Sebelumnya, ia tercatat sebagai nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 lewat karyanya Cerita Dari Tapal Batas.
Pada Juni lalu, Ichwan baru saja menerima penghargaan khusus bidang kebudayaan dan kemanusiaan dari Golden FEMI Film Festival di Bulgaria untuk film Solata. Pengakuan dari festival Eropa ini menjadi sinyal bahwa cerita lokal dari Sulawesi Selatan mampu bersaing di panggung global.
Usai menerima penghargaan, Ichwan mengungkapkan bahwa dirinya saat ini tengah berada di Makassar untuk melakukan riset mendalam. Ia sudah dua bulan berada di Sulawesi Selatan demi menyiapkan proyek film dokumenter panjang terbarunya.
Film dokumenter tersebut rencananya akan mengangkat isu politik identitas sebuah masyarakat adat di Sulawesi Selatan. Proyek ini diproyeksikan akan tayang secara terbatas di bioskop serta diputar di sejumlah festival film pada tahun depan.