SULAWESI SELATAN — X, melalui tim Safety-nya, merilis hasil investigasi terkait dugaan akun-akun tidak autentik asal China di platformnya. Dari total 200.000 akun bot yang ditemukan, sebagian kecil—sekitar 200 akun—secara khusus diduga menyebarkan konten yang menyerang pembangunan pusat data AI. Temuan ini diumumkan melalui laman Global Government Affairs X.
Akun-akun tersebut memproduksi komik, gambar, dan teks yang membahas dampak negatif pusat data AI. Narasi yang diangkat antara lain soal kenaikan tarif listrik rumah tangga dan beban berat pada jaringan listrik di kota-kota sekitar pusat data.
Beberapa unggahan bahkan menampilkan kartun bergaya AI yang menggambarkan operator pusat data sebagai pengusaha tidak bertanggung jawab yang meraup untung besar, sementara keluarga biasa harus menanggung biaya listrik yang membengkak.
X tidak merinci akun-akun yang terlibat, namun membagikan beberapa contoh unggahan di platformnya. "Kami berkomitmen menjaga platform yang terbuka dan autentik di mana orang dapat memperdebatkan topik kepentingan publik," tulis X dalam pernyataannya. "Kami menanggapi serius setiap upaya untuk merusak integritas platform dan menangguhkan akun yang melanggar kebijakan Authenticity."
Berdasarkan contoh unggahan yang dibagikan X, akun-akun tidak autentik tersebut menggunakan OpenAI untuk membuat ilustrasi dan materi kampanye. Temuan ini sejalan dengan laporan OpenAI pada Juni lalu yang mengungkap akun-akun yang kemungkinan berbasis di China menggunakan ChatGPT untuk membuat konten anti-pusat data.
Menariknya, OpenAI saat itu mencatat bahwa meski akun-akun tersebut menggunakan profil palsu, mereka juga mengunggah "berita sah tentang lelang kapasitas operator jaringan listrik dan permintaan daya pusat data." Ini menunjukkan narasi yang dibangun tidak sepenuhnya fiktif, melainkan memanfaatkan isu nyata yang sedang hangat.
Kekhawatiran tentang kenaikan biaya listrik di kota-kota dekat pusat data memang bukan tanpa dasar. Data Goldman Sachs menunjukkan harga listrik telah naik 6,9 persen secara year-over-year per Februari 2026. Lembaga keuangan itu memperkirakan harga akan terus meningkat seiring pertumbuhan permintaan dari fasilitas AI.
Namun, X tidak menjelaskan konten apa yang diproduksi oleh 199.800 akun bot lainnya dalam jaringan besar tersebut. Laporan OpenAI dari Juni lalu memberikan petunjuk: pengguna ChatGPT yang terkait China juga meminta chatbot untuk menulis hinaan terhadap para pembangkang dan komentator politik China, serta kritik terhadap tarif AS dan kebijakan teknologi.
Bagi pengguna internet Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa perang informasi digital semakin canggih. Penggunaan AI generatif untuk memproduksi konten propaganda dalam skala besar menuntut literasi digital yang lebih tinggi, terutama saat membaca isu-isu geopolitik yang berdampak pada kebijakan teknologi global.