SULAWESI SELATAN — Angka itu mengemuka dalam paparan Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, di Jakarta, Kamis (20/8/2026). Namun, skema ini masih dibahas lantaran pemerintah belum memutuskan besaran insentif yang akan digelontorkan.
"Nanti [akan] menjelaskan tadi angkanya, exercise angka Rp20 juta jadi Rp18 juta, 1 juta unit per tahun," ujar Atong.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyebut kisaran Rp18 juta masih sekadar gambaran awal. Pemerintah tengah menghitung kemampuan fiskal negara sebelum menetapkan skema dukungan final untuk program Molinas.
Artinya, harga yang beredar di publik belum menjadi angka pasti. Keputusan akhir bergantung pada hasil perhitungan anggaran dan desain insentif yang disepakati antar kementerian/lembaga.
Program Molinas digadang menjadi tulang punggung elektrifikasi roda dua di dalam negeri. Dengan target produksi 1 juta unit per tahun, pemerintah berharap harga Rp18 juta mampu mempercepat adopsi motor listrik di kalangan masyarakat luas.
Angka itu dipandang sebagai titik impas yang menarik bagi konsumen Indonesia. Mereka selama ini masih membandingkan biaya kepemilikan motor listrik dengan motor konvensional. Jika terealisasi, harga tersebut akan menempatkan Molinas di segmen yang jauh lebih kompetitif.
Kendati demikian, belum ada kepastian mengenai spesifikasi teknis, kapasitas baterai, maupun pabrikan yang akan memproduksi Molinas. Semua detail teknis dan komersial baru akan diumumkan setelah skema insentif dan regulasi pendukung tuntas disusun.
Yang jelas, arah kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius mendorong industri motor listrik nasional. Pertanyaannya kini tinggal menunggu realisasi anggaran dan komitmen para calon produsen untuk menekan biaya produksi hingga mencapai target harga tersebut.