PINRANG — Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pinrang bersama Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, dan warga setempat berjibaku memadamkan kobaran api di medan berbukit. Alih-alih hanya menyiram langsung ke titik api, tim memilih metode pemadaman dengan membuat jalur sekat di sekeliling lokasi kebakaran.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, teknik penyekatan ini terbukti efektif menghentikan laju api agar tidak merambat ke area perbukitan yang lebih luas. "Karhutla melanda kawasan perbukitan di Desa Taddakong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, itu Sabtu (1/8) malam, sekitar pukul 19.00 Wita," kata dia dalam keterangan resminya, Senin.
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, titik api pertama kali muncul diduga berasal dari timbunan daun dan ranting kering yang terbakar akibat paparan panas matahari. Kondisi kawasan perbukitan berbatu yang minim kelembapan membuat material organik tersebut mudah tersulut api.
Proses pemadaman dilakukan dengan cara membersihkan dan memotong jalur di sekeliling lokasi api. Metode ini sekaligus dibarengi penyiraman darat agar sekat bakar yang dibuat tidak ikut terbakar dan justru menjadi celah api menjalar.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Kobaran api berhasil dilokalisasi dan tidak meluas ke permukiman warga. BNPB memastikan tidak ada korban jiwa maupun pemukiman warga yang terdampak langsung akibat insiden kebakaran tersebut.
Meski demikian, kebakaran tetap menghanguskan sekitar lima hektare vegetasi perbukitan di wilayah tersebut. Kerugian ekologis akibat hilangnya tutupan lahan di kawasan berbukit itu masih dalam pendataan petugas setempat.
Peristiwa di Pinrang ini menjadi pengingat tingginya potensi kebakaran lahan di Sulawesi Selatan saat musim kemarau. BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di dekat kawasan hutan dan lahan kering, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diminta segera melapor ke aparat desa atau BPBD setempat jika menemukan titik api awal, sebelum kobaran meluas dan semakin sulit dikendalikan di medan yang sulit dijangkau.