SULAWESI SELATAN — Pemerintah tidak ingin kecolongan dua kali. Setelah panen terganggu oleh fenomena iklim ekstrem pada tahun-tahun sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) kini menyiapkan lima strategi konkret untuk mengamankan pasokan pangan di tengah ancaman El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, strategi pertama adalah pompanisasi massal. Ribuan unit pompa air akan disebar ke daerah-daerah yang sumber airnya mulai surut, terutama di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
"Kami targetkan pompanisasi bisa menutupi kekurangan air di lahan tadah hujan seluas 1,2 juta hektare," ujar Amran dalam rapat koordinasi di Jakarta, Selasa (16/4). Langkah ini dibarengi dengan rehabilitasi irigasi tersier yang selama ini banyak rusak. Perbaikan saluran air itu diyakini bisa mengembalikan produktivitas lahan hingga 30 persen.
Strategi ketiga, Kementan mendorong penggunaan varietas benih padi yang toleran kekeringan. Benih seperti Inpari 42 dan Situ Bagendit disebut mampu bertahan dengan curah hujan rendah hingga 30 persen lebih lama dibanding varietas biasa. "Petani di daerah rawan El Nino wajib beralih ke benih ini," tegas Amran.
Keempat, optimalisasi lahan rawa dan lebak. Kementan mengidentifikasi ada sekitar 2,8 juta hektare lahan rawa yang potensial ditanami padi di musim kemarau. Lahan ini justru akan surplus air saat wilayah lain kekeringan. Kelima, pemerintah mempercepat realisasi asuransi usaha tani padi (AUTP) untuk 2 juta hektare lahan. Skema ini menjadi jaring pengaman jika gagal panen tetap terjadi.
Langkah ini tidak bisa ditawar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan puncak El Nino jatuh pada Juli-September 2024, bertepatan dengan musim tanam kedua. Jika tidak diantisipasi, produksi beras nasional bisa jeblok hingga 3-4 juta ton, mengerek harga di pasaran.
Bagi masyarakat, dampaknya langsung terasa. Harga beras medium yang saat ini sudah di kisaran Rp 13.000 per kg bisa meroket mendekati Rp 16.000. Kelompok penerima bantuan pangan dan kelas menengah bawah menjadi yang paling tertekan. Kementan menargetkan produksi beras tetap di angka 31,5 juta ton meski El Nino menerjang.
Amran menambahkan, semua strategi ini sudah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan TNI untuk percepatan di lapangan. "Kami tidak mau ada satu hektare pun lahan yang tidak terairi," pungkasnya. Pertanyaannya sekarang, seberapa cepat eksekusi di lapangan sebelum kemarau tiba.