SULAWESI SELATAN — Hukum fisika sederhana berlaku di sini: udara memuat saat panas dan menyusut saat dingin. Dalam konteks ban, setiap penurunan suhu 10°C bisa mengurangi tekanan sekitar 1 PSI. Sebaliknya, saat suhu naik, tekanan ikut bertambah. Perubahan ini sering tidak disadari pengendara, padahal dampaknya langsung ke performa kendaraan.
Ban dengan tekanan kurang dari rekomendasi pabrikan membuat area kontak dengan aspal lebih luas. Gesekan ekstra ini meningkatkan hambatan gulir, sehingga mesin perlu bekerja lebih keras. Akibatnya konsumsi BBM bisa naik hingga 3-5%—angka yang signifikan jika dikalikan pemakaian bulanan.
Selain boros, tapak ban bagian tepi akan aus lebih cepat karena beban tidak merata. Ini memperpendek usia pakai ban, dan dalam kasus ekstrem bisa memicu kegagalan struktur ban. Di jalanan Indonesia yang sering macet dan bersuhu tinggi, risiko ini makin besar.
Pengecekan paling akurat dilakukan saat ban dalam kondisi dingin, misalnya pagi hari sebelum kendaraan dipakai. Suhu ban yang masih rendah memberi angka PSI sesuai standar pabrikan. Jangan lupa cek juga ban cadangan, karena tekanan di dalamnya juga dipengaruhi suhu.
Jika kamu baru saja menempuh perjalanan jauh, tekanan ban akan lebih tinggi karena panas akibat gesekan. Jangan mengempiskan ban dalam kondisi panas untuk mengejar angka standar—tunggu hingga dingin dulu. Patuhi rekomendasi tekanan yang tercantum di stiker pintu pengemudi atau buku manual.
Menjaga tekanan ban ideal bukan sekadar soal kenyamanan, tapi juga keselamatan berkendara dan efisiensi biaya operasional kendaraan. Investasi waktu 5 menit sebulan bisa menghemat ratusan ribu rupiah per tahun untuk BBM dan mengganti ban lebih jarang.