SULAWESI SELATAN — Laga ini bukan sekadar partai gugur biasa. Bagi AS, ini adalah kesempatan memutus rantai kegagalan yang membentang selama 24 tahun. Sejak finis ketiga pada Piala Dunia 1930, pencapaian terbaik mereka justru terjadi pada 2002. Setelah itu, tiga edisi berturut-turut—2010, 2014, dan 2022—selalu berakhir di fase yang sama: tersingkir di 16 besar.
Tim besutan Mauricio Pochettino lolos sebagai juara Grup D dengan enam poin. Langkah mereka ke babak ini dipastikan setelah menundukkan Bosnia-Herzegovina 2-0 di putaran sebelumnya. Kemenangan itu mempertegas ambisi skuad Pochettino untuk melampaui capaian tiga turnamen terakhir.
Jika berhasil melewati Belgia, lawan yang menunggu di perempat final adalah pemenang duel Portugal kontra Spanyol. Sebuah jalan terjal, tapi tiket ke delapan besar sudah menjadi target minimal yang harus direbut.
Di sisi lain, Belgia datang dengan modal lima poin sebagai juara Grup G. Skuad arahan Rudi Garcia menunjukkan daya juang luar biasa saat mengalahkan Senegal 3-2 di babak 32 besar. Tertinggal 0-2 di lima menit akhir waktu normal, Romelu Lukaku dan Youri Tielemans menyamakan kedudukan sebelum Tielemans memastikan kemenangan lewat penalti di menit ke-120.
Mentalitas baja seperti itu yang patut diwaspadai AS. Belgia tidak mudah menyerah, bahkan dalam situasi paling genting sekalipun.
Duel ini mempertemukan dua tim yang sama-sama haus prestasi. AS ingin memecahkan kutukan 16 besar, sementara Belgia ingin membuktikan konsistensi setelah performa impresif di fase grup. Lumen Field, Seattle, akan menjadi saksi siapa yang lebih siap secara mental dan taktik.
Pertandingan dijadwalkan kick-off pukul 07.00 WIB. Bagi AS, ini bukan sekadar laga—ini adalah ujian sejarah yang sudah terlalu lama menunggu untuk diakhiri.