SULAWESI SELATAN — Bermain di Miami Stadium, tim peringkat ke-73 dunia itu memaksa Argentina bekerja ekstra keras hingga babak tambahan. Lionel Messi dan kawan-kawan nyaris tersingkir lebih awal andai bukan karena gol bunuh diri yang menentukan di menit-menit akhir extra time.
Cape Verde menunjukkan pertahanan disiplin sejak menit awal. Argentina baru bisa memecah kebuntuan lewat aksi Messi jelang setengah jam pertandingan. Namun, semangat juang Cape Verde tak pernah padam.
Gelandang Deroy Duarte menyamakan skor di menit ke-59. Ia memanfaatkan umpan terobosan yang menembus celah kaki bek Argentina, lalu melepaskan tembakan yang melewati celah kaki kiper Emiliano Martinez. Gol itu memicu euforia di kubu Cape Verde.
Ketika Argentina kembali unggul di menit ke-92 babak tambahan, Sidny Lopes Cabral muncul sebagai pahlawan. Fullback itu memotong dari sayap kiri, melewati Alexis Mac Allister, dan melepaskan tembakan melengkung keras ke pojok kanan gawang pada menit ke-103. “Saya tidak percaya. Saya harus merayakannya bersama ibu dan pacar saya,” ujar Cabral usai pertandingan.
Momen paling emosional terjadi setelah gol tersebut. Cabral langsung berlari ke arah tribun tempat keluarganya duduk dan berpelukan erat. Ia menepati janji yang dibuat sebelum laga: jika mencetak gol ke gawang Argentina, ia akan merayakannya bersama orang-orang tercinta.
Sayangnya, keunggulan itu tak bertahan lama. Argentina memaksa gol bunuh diri di menit-menit akhir extra time untuk memastikan kemenangan 3-2. Cape Verde harus pulang dengan rekor 0 kemenangan, 3 hasil imbang, dan 1 kekalahan di turnamen ini.
Messi mengakui betapa beratnya pertandingan ini. “Ada alasan mengapa tim ini tidak kalah dari Spanyol dan Uruguay, dan mengapa mereka lolos ke babak gugur. Kami sangat menderita hari ini,” kata kapten Argentina itu, dengan bekas benjolan di dahinya.
Winger Cape Verde, Willy Semedo, menegaskan kebanggaan timnya. “Kami berusaha terbaik untuk membanggakan negara dan Afrika. Kami menunjukkan kualitas. Kami hanya harus bangga dan mencoba kembali pada 2030.”
Dengan performa heroik melawan raksasa dunia, Cape Verde resmi menjadi salah satu cerita terbaik Piala Dunia 2026. Mereka mungkin kalah, tapi tak ada yang meragukan nyali Hiu Biru.