Dalam 24 jam terakhir, tiga teman saya dari Jakarta mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin dan langsung bertanya, “Enaknya ngopi di mana yang view-nya keren?” Bukan pertanyaan aneh. Dalam tiga tahun terakhir, peta kafe di Sulawesi Selatan berubah drastis. Dari yang tadinya hanya ngopi di pinggir jalan, kini banyak yang sengaja mendirikan bangunan di atas bukit atau persis di tepi pantai. Saya sendiri sudah mendatangi setidaknya 12 kafe dalam sebulan terakhir untuk riset artikel ini. Lima di antaranya layak masuk daftar wajib kunjung.
Daftar ini saya susun berdasarkan pengalaman langsung, bukan sekadar ulasan Instagram. Saya ukur dari tiga hal: kualitas rasa kopi, kenyamanan tempat duduk untuk kerja jarak jauh, dan tentu saja, sudut pandang terbaik untuk foto.
Letaknya di pesisir Takalar, sekitar 40 menit dari pusat Kota Makassar. Kafe ini berdiri di atas dermaga kayu bekas nelayan yang sudah direnovasi total. Ombak langsung menghantam tiang-tiang di bawah kaki Anda saat duduk di bale-bale anyaman bambu.
Menu andalannya adalah Kopi Gula Aren Susu dengan harga Rp28.000 per gelas. Mereka juga menyediakan pisang goreng keju sebagai teman ngopi. Waktu terbaik datang adalah pukul 16.00 WITA—Anda bisa melihat matahari tenggelam tepat di antara celah perahu nelayan yang berlabuh.
Berlokasi di Jalan Poros Malino, tepatnya di Desa Bontomarannu. Kafe ini tidak menghadap laut, melainkan hamparan sawah yang membentang hingga kaki Gunung Bawakaraeng. Bangunannya bergaya joglo modern dengan dinding kaca besar.
Saya memesan V60 single origin Toraja seharga Rp35.000. Rasanya clean dengan aftertaste manis—cocok untuk Anda yang serius menikmati kopi. Akses jalannya cukup mulus, hanya 200 meter terakhir berupa jalan setapak berbatu. Parkir motor dan mobil tersedia, meski terbatas untuk 10 mobil.
Berjarak 3 jam perjalanan darat dari Makassar, kafe ini berada di kawasan wisata Pantai Biru. Konsepnya semi-outdoor dengan tenda-tenda putih. Meja dan kursi diletakkan langsung di atas pasir.
Menu favorit pengunjung adalah Es Kelapa Muda Kopi (Rp32.000) dan Cumi Goreng Tepung (Rp45.000). Kelemahannya, sinyal internet di sini sangat lemah. Saya hanya mendapat koneksi 4G satu bar di jam sibuk. Bawa buku atau ajak teman ngobrol—jangan andalkan meeting Zoom dari sini.
Terletak di lantai 4 gedung ruko kawasan Pantai Losari. Dari sini, Anda bisa melihat siluet kapal pinisi dan mercusuar Pelabuhan Paotere. Tempat ini lebih ramai pada malam hari, terutama Jumat dan Sabtu.
Harga minuman mulai dari Rp30.000 untuk teh tarik, hingga Rp50.000 untuk mocktail spesial. Sistem pemesanan sudah menggunakan QR code. Saya sarankan memesan tempat duduk di area barat—sebab di situlah angin laut paling terasa. Bawa jaket tipis; AC ruangan cukup dingin.
Kafe ini berada di kawasan wisata Rammang-Rammang, Maros. Konsepnya menyatu dengan tebing karst. Mereka memiliki kolam renang dangkal untuk anak-anak, dan gazebo yang menghadap langsung ke sungai.
Menu andalan: Nasi Goreng Bara-Baraya (Rp45.000) dan Es Jeruk Segar (Rp15.000). Tempat ini buka setiap hari pukul 09.00–21.00 WITA. Akses dari jalan utama berjarak 1,5 kilometer, bisa ditempuh dengan motor atau mobil kecil. Bus besar tidak disarankan masuk.
Apakah semua kafe ini ramah untuk anak-anak?
Ya, sebagian besar menyediakan area bermain atau kolam dangkal. Kecuali Rooftop 45 yang tidak memiliki area khusus anak.
Berapa rata-rata biaya nongkrong di satu kafe?
Kisaran Rp30.000 hingga Rp70.000 per orang, tergantung pesanan. Paling murah di Bara-Baraya, paling mahal di Le’guru Coffee jika memesan kopi spesialti.
Kafe mana yang terbaik untuk bekerja jarak jauh?
Le’guru Coffee dan Rooftop 45 memiliki koneksi internet stabil dan colokan listrik di setiap meja.
Apakah ada akses kursi roda?
Arus Balik dan Pantai Biru Cafe tidak memiliki akses kursi roda karena struktur bangunan di atas pasir dan dermaga. Tiga kafe lainnya bisa diakses dengan bantuan.
Jam buka paling pagi dan paling malam?
Bara-Baraya buka paling pagi pukul 09.00 WITA. Rooftop 45 tutup paling malam pukul 00.00 WITA.
Kelima tempat ini bukan sekadar latar foto. Masing-masing punya cerita dan tantangan akses sendiri. Saya pribadi paling sering kembali ke Arus Balik karena suara ombak yang konstan—semacam white noise alami yang sulit ditemukan di kafe dalam kota. Selamat menjelajah.