SULAWESI SELATAN — Stok ASI perah yang sudah dikeluarkan dari freezer sering bikin ibu panik saat tahu teksturnya berubah mencair sebelum sempat diminum Si Kecil. Sebelum memutuskan membuangnya, ada baiknya ibu tahu dulu kondisi seperti apa yang membuat ASI perah masih layak diberikan dan kapan harus dibuang.
ASI perah yang mencair di suhu ruang atau kulkas bukan otomatis rusak. Keputusan untuk membuang atau tetap memakainya bergantung pada berapa lama ASI berada di suhu tersebut dan bagaimana proses penyimpanannya sejak awal.
ASI perah yang disimpan di freezer akan mencair ketika dipindahkan ke kulkas, dibawa dalam tas pendingin, atau lupa dimasukkan kembali. Perubahan suhu ini normal terjadi, terutama bagi ibu yang menyiapkan stok untuk ditinggal bekerja.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar mencairnya, tapi berapa lama ASI berada di suhu ruang setelah keluar dari pendingin.
ASI perah yang baru mencair dan masih terasa dingin umumnya bisa langsung diberikan atau disimpan kembali di kulkas untuk dipakai dalam waktu dekat. Bau dan warna ASI juga bisa berubah setelah mencair, dan itu belum tentu tanda kerusakan.
Untuk memastikan, ibu bisa mencium aromanya. ASI yang masih layak tidak berbau asam menyengat atau tengik.
ASI perah sebaiknya dibuang jika sudah dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, terlihat menggumpal aneh, atau berbau asam. ASI yang sudah dihangatkan dan tidak habis diminum juga sebaiknya tidak disimpan ulang.
Hindari juga membekukan kembali ASI yang sudah mencair sepenuhnya, karena kualitasnya menurun dan risiko kontaminasi meningkat.
Hangatkan ASI perah dengan merendam wadahnya di air hangat, bukan air mendidih. Jangan memanaskan langsung di atas kompor atau microwave karena bisa merusak kandungan gizi dan membuat suhu tidak merata.
Setelah dihangatkan, ASI sebaiknya segera diberikan dan sisa yang tidak habis tidak dipakai lagi.
Jika Si Kecil menunjukkan tanda tidak nyaman setelah minum ASI perah, seperti muntah atau diare, segera hentikan pemberian dan konsultasikan ke dokter atau konselor laktasi. Simpan catatan waktu penyimpanan ASI agar lebih mudah melacak kondisinya.
Menyimpan ASI perah dengan label tanggal dan waktu memudahkan ibu memilih stok mana yang harus dipakai lebih dulu. Dengan begitu, stok ASI tetap aman dan tidak terbuang percuma.