MAROS — Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar merilis data pengamatan partikulat pada Jumat (23/10/2026) pukul 07.00 WITA. Hasilnya menempatkan udara Maros dan sekitarnya dalam kategori Tidak Sehat. Konsentrasi PM2.5 terukur 79,3 µg/m³, jauh di atas ambang yang lazim disebut aman bagi pernapasan.
Angka itu masuk rentang 55,5–150,4 µg/m³ dalam kriteria Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Pada level tersebut, udara dinilai bersifat merugikan bagi kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.
PM2.5 adalah partikel udara mikroskopis berukuran kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Ukurannya memungkinkan partikel ini terhirup jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan berulang berpotensi memicu gangguan kesehatan yang lebih serius.
Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini tidak tersaring sempurna oleh rambut hidung. Ia bisa mencapai alveolus, kantong udara terkecil di paru-paru, dan dalam kasus tertentu masuk ke aliran darah.
BBMKG memperingatkan sejumlah dampak kesehatan akibat penurunan kualitas udara ini. Partikel PM2.5 dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Risiko paling besar mengincar kelompok rentan. Anak-anak dan lansia berpotensi mengalami perburukan penyakit pernapasan bila terpapar dalam waktu lama. Warga dengan riwayat asma atau gangguan paru juga perlu lebih waspada.
Menyikapi kondisi udara yang kurang bersahabat, pihak BMKG mengeluarkan imbauan bagi masyarakat:
Imbauan ini bersifat sementara, menyesuaikan hasil pengamatan partikulat berikutnya. Warga diharapkan memantau pembaruan data dari Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, terutama bila hendak beraktivitas lama di luar ruangan.
Data kualitas udara BBMKG Wilayah IV Makassar dirilis berkala sebagai bagian layanan informasi meteorologi dan klimatologi. Pembaruan biasanya mengikuti jadwal pengamatan pagi, sehingga tren perubahan konsentrasi PM2.5 bisa dipantau dari hari ke hari.