PANGKEP — Laporan kebakaran pada 13 Oktober 2026 mencatat api menjalar hingga celah-celah batu karst yang menjadi rumah bagi gambar babi rusa dan cap tangan prasejarah. Kawasan karst Maros-Pangkep sendiri tercatat memiliki 734 situs prasejarah, dengan lebih dari 400 di antaranya menyimpan lukisan cadas.
Petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, pengelola taman nasional, dan masyarakat dikerahkan untuk mengendalikan api. Mereka menggunakan pompa air, selang panjang, serta alat pemadam punggung.
Medan Karst Terjal dan Angin Kencang Percepat Penjalaran Api
Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari medan karst yang terjal, akses menuju titik api yang sulit, hingga angin kencang yang mempercepat penyebaran kebakaran.
Keterbatasan sumber air dan api yang menjalar di celah-celah batu membuat proses pemadaman semakin menantang. Operasi dilakukan dengan memprioritaskan keselamatan personel dan perlindungan permukiman yang berbatasan dengan kawasan hutan.
Wilayah Maros dan Pangkep masih berada dalam periode kemarau. Suhu udara diperkirakan berkisar 25–36 derajat Celsius berdasarkan informasi cuaca yang dikutip dalam laporan tersebut.
Panas Ekstrem Bisa Picu Retakan hingga Pengelupasan Batuan Lukisan
Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, memperingatkan bahwa panas ekstrem dapat memicu perubahan suhu pada batuan kapur. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat pelapukan, menimbulkan retakan, hingga menyebabkan pengelupasan lapisan batuan tempat lukisan berada.
Asap kebakaran menghasilkan jelaga yang dapat menutupi permukaan lukisan. Akibatnya, detail gambar dan warna pigmen asli berisiko sulit dikenali.
Kerusakan tersebut dikhawatirkan bersifat permanen. Karena itu, pengendalian api dan langkah mitigasi dinilai penting untuk mencegah kebakaran menjalar ke kawasan gua prasejarah.
Kebakaran Serupa Pernah Terjadi pada 2014 dan 2015
Basran mengungkapkan bahwa kebakaran serupa pernah terjadi pada 2014 dan 2015. Berulangnya kejadian tersebut menunjukkan pentingnya penguatan upaya pencegahan serta sistem mitigasi kebakaran di kawasan konservasi.
Ancaman kebakaran tidak hanya menyasar vegetasi dan ekosistem hutan. Kelestarian lukisan gua yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun turut dipertaruhkan.
Di sisi lain, karst Maros-Pangkep tengah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Status dan nilai penting kawasan ini membuat perlindungan terhadap lingkungan serta peninggalan arkeologinya menjadi semakin krusial.
Dorongan Penguatan Mitigasi dan Penghijauan Tanaman Lokal
Para ahli mendorong penguatan pencegahan kebakaran, penghijauan menggunakan tanaman lokal, serta koordinasi antarlembaga untuk menjaga kelestarian kawasan. Petugas juga berupaya melakukan penyekatan untuk menghambat penyebaran api ke area lain.
Kebakaran di Maros-Pangkep menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla bukan hanya tentang hilangnya tutupan hutan. Jika tidak segera dikendalikan, api juga berpotensi merusak jejak kehidupan manusia purba yang memiliki nilai sejarah penting bagi Indonesia dan dunia.