MAKASSAR — Kuliah umum Prodi Sosiologi FIS-H UNM dirancang terintegrasi langsung dengan mata kuliah semester berjalan. Ketua Program Studi Sosiologi FIS-H UNM, Mario, menyebut mahasiswa sosiologi tidak boleh berhenti pada pemahaman teori di ruang kelas semata.
Menurut Mario, mahasiswa harus mampu membaca realitas struktur sosial di masyarakat secara utuh. Karena itu, kegiatan akademik ini diposisikan sebagai jembatan antara teori perkuliahan dan persoalan pembangunan yang riil di lapangan.
Sosiolog Universitas Airlangga, Novri Susan, membedah materi mengenai analisis sosial dan rekayasa sosial dalam pembangunan inklusif. Ia memaparkan bahwa analisis sosial yang presisi menjadi fondasi utama sebelum rekayasa sosial dijalankan.
Tanpa analisis yang tajam, kebijakan yang dirumuskan berisiko timpang. Novri menekankan agar kebijakan benar-benar berpihak pada kebutuhan kelompok rentan, bukan sekadar mengikuti asumsi perencana program.
Dr Subhan Kadir dari Kementerian Sosial RI melengkapi perspektif praktisi. Ia menekankan pentingnya pemetaan sosial (social mapping) sebelum program intervensi diturunkan ke masyarakat.
Pemetaan sosial di lapangan menjadi instrumen krusial untuk membaca kebutuhan riil, potensi lokal, serta tantangan pendampingan sosial bagi kelompok marjinal. Dengan begitu, program kesejahteraan sosial bisa tepat sasaran dan berkelanjutan.
Wakil Dekan I Bidang Akademik FIS-H UNM, Dr Ahmadin, mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum ini. Ia menilainya sebagai ruang strategis untuk mengasah kepekaan nalar kritis mahasiswa terhadap isu-isu pembangunan riil di masyarakat.
Diskusi dipandu Ulfa Utami Mappe selaku moderator dan berlangsung interaktif melalui dialog kritis antara narasumber dan peserta hingga akhir acara.