Peneliti, Akademisi, dan Pemprov Sulsel Kolaborasi Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Perubahan Iklim

Penulis: Nurul Huda  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:02:01 WIB
Konferensi ilmiah Simpul Pangan Nusantara mempertemukan peneliti, akademisi, dan penggiat pangan di Makassar.

Puluhan peneliti, akademisi, dan penggiat pangan bersama Pemprov Sulawesi Selatan memperkuat ketahanan pangan daerah menghadapi ancaman perubahan iklim melalui konferensi ilmiah Simpul Pangan Nusantara di Makassar. Kegiatan yang digelar ICRAF Indonesia bersama Bappelitbangda Sulsel dan Universitas Hasanuddin itu menampilkan puluhan makalah serta poster ilmiah. Pemprov Sulsel menyebut kolaborasi multipihak jadi kunci menjaga produksi pangan di tengah musim kering yang makin sulit diprediksi.

MAKASSAR — Konferensi ilmiah sistem pangan berkelanjutan Simpul Pangan Nusantara mempertemukan peneliti, akademisi, perwakilan Pemprov Sulawesi Selatan, penggiat pangan, hingga mahasiswa di Makassar. Forum itu menjadi ruang berbagi riset dan inovasi pertanian yang dirancang adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan M. Ishaq Iskandar menegaskan bahwa persoalan pangan tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. Menurut dia, peneliti dan ilmuwan berperan menambah pengetahuan agar ketahanan pangan daerah semakin kuat.

"Pertanian dan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi multipihak, termasuk para peneliti dan ilmuwan yang akan menambah pengetahuan tentang bagaimana ketahanan pangan kita semakin baik," ujar Ishaq.

Puluhan Makalah Bahas Isu Pangan hingga Kebijakan Daerah

Konferensi tersebut menghadirkan puluhan makalah dan poster ilmiah. Topiknya beragam, mulai dari pengembangan kebun pangan rumah tangga, pertanian cerdas iklim, agroforestri, pangan lokal, hingga tata kelola lanskap dan kebijakan daerah.

Kegiatan itu diselenggarakan ICRAF Indonesia yang kini memakai nama operasional Landscape Alliance, bersama Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan dan Universitas Hasanuddin.

Musim Kering Jadi Ancaman Produksi Pangan

Ishaq menyoroti tantangan perubahan iklim dan musim kering sebagai salah satu ancaman terhadap keberlanjutan produksi pangan. Karena itu, inovasi dan penguatan infrastruktur pertanian dinilai mendesak.

Pemprov Sulsel telah menjalankan sejumlah program untuk menjawab persoalan itu. Di antaranya proyek strategis pembangunan irigasi multi years project, penyediaan sumur bor dan pompanisasi untuk pertanian, serta penyaluran benih varietas unggul.

Sulsel sebagai salah satu lumbung pangan nasional juga dinilai punya potensi besar melakukan diversifikasi sumber pangan. Tidak hanya padi dan jagung, tetapi juga sagu, ubi, talas, dan komoditas pangan lokal lainnya.

Agroforestri dan Pertanian Terpadu Jadi Pendekatan Baru

Dari sisi akademisi, penguatan ketahanan pangan didorong melalui hilirisasi hasil penelitian agar bisa diterapkan langsung di lapangan. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah agroforestri yang mengintegrasikan tanaman pangan dengan tanaman perkebunan dan pepohonan.

Pendekatan itu dinilai cocok dengan potensi Sulsel yang memiliki beragam kondisi agroekologi. Pengembangan komoditas juga diarahkan tidak lagi berbasis monokultur, melainkan melalui sistem pertanian terpadu yang menggabungkan pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

Lima Tahun Kerja Sama, Perubahan Terlihat di Kabupaten Bone

Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bapelitbangda Sulsel, Inyo, menyebut pemerintah daerah telah berinteraksi dengan ICRAF selama sekitar lima tahun. Kerja sama itu mencakup tahap perencanaan hingga pelaksanaan program.

Menurut dia, kemitraan tersebut membantu pemerintah memperkuat perencanaan berbasis data dan riset, sekaligus melihat dampak nyata inovasi yang diterapkan di lapangan.

"Seluruh kebijakan seharusnya berbasis riset. Kami bersyukur karena ICRAF membantu mulai dari perencanaan, analisis data sampai implementasi di lapangan," katanya.

Perubahan itu terlihat di Kabupaten Bone, terutama dalam kemampuan petani mengembangkan tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Program di daerah tersebut mencakup pengembangan tanaman pangan dan hortikultura, kakao, padi, jagung, serta pembinaan peternakan.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: makassar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top