SULAWESI SELATAN — PT United Tractors Tbk melepasliarkan 10 ekor rusa timor hasil pembiakan bersama IPB University ke Kawasan Margasatwa Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pelepasliaran menandai tahap akhir program konservasi UTREES yang berjalan sejak 2018, dari populasi awal delapan ekor menjadi 43 ekor. Langkah ini memperkuat komitmen ESG anak usaha PT Astra International Tbk tersebut di sektor konservasi keanekaragaman hayati.
Paragraf pembuka: Sepuluh rusa timor dengan nama ilmiah Cervus timorensis itu keluar dari kandang kayu satu per satu, menjejak tanah, lalu menyusuri rimbun pepohonan Cikepuh. Bagi Ari Sutrisno, Direktur United Tractors, momen tersebut merupakan ujung dari perjalanan panjang: pembiakan, penelitian, pemantauan kesehatan, hingga habituasi dua minggu di kandang adaptasi. "Kami berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian satwa endemik Indonesia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem," ujar Ari, dikutip Rabu (16/9).
Kolaborasi United Tractors dan IPB University dimulai pada 2018 melalui program pembiakan rusa timor di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga. Saat itu populasi hanya delapan ekor. Pengelolaan berkelanjutan membuat jumlahnya berkembang menjadi 43 ekor, dan 10 di antaranya merupakan generasi keempat yang dinilai layak dilepas ke habitat alami.
Sebelum dilepasliarkan, setiap individu melewati penilaian kondisi, survei kesesuaian habitat, dan habituasi. Kawasan Margasatwa Cikepuh dipilih karena habitatnya masih terjaga, sumber pakan memadai, dan tutupan vegetasi mendukung kehidupan rusa timor. Proses ini melibatkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, pemerintah desa setempat, dan pemangku kepentingan lain.
"Kolaborasi bersama IPB University dan para pemangku kepentingan menjadi bukti bahwa sinergi multipihak dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan keberlanjutan di masa depan," imbuh Ari.
Keberadaan rusa timor bukan sekadar soal jumlah. Satwa ini membantu penyebaran biji yang menopang regenerasi vegetasi, sehingga kehadirannya menjaga mata rantai kehidupan di habitatnya. Sepuluh rusa yang baru dilepasliarkan diharapkan mampu bertahan, berkembang biak, dan kembali menjalankan fungsi ekologisnya.
Program UTREES (United Tractors for Nature and Environment Sustainability) menjadi payung konservasi keanekaragaman hayati perusahaan. Bagi United Tractors, alam tidak dipandang sebagai ruang yang dijaga setelah aktivitas industri berlangsung, melainkan bagian dari sistem yang diperhitungkan sejak awal.
Di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, anak usaha United Tractors, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), membangun PAMA Eco-Edu Forest bersama Otorita IKN (OIKN) dan Wanagama Universitas Gadjah Mada. Kawasan seluas 100 hektare di Wanagama Nusantara ini diresmikan pada 20 November 2025, dengan sekitar 10 hektare dialokasikan untuk captive breeding dan sisanya untuk penanaman pohon.
PAMA memilih rusa sambar karena satwa endemik Kalimantan ini tergolong dilindungi dan tingkat reproduksinya lambat. "Rusa di Jawa bisa bereproduksi dua kali dalam setahun, sedangkan rusa sambar hanya satu kali setahun. Tingkat kepunahannya pun lebih rentan," jelas CSR Department Head PAMA, Maidi Irvan.
Saat ini penangkaran dihuni lebih dari 12 ekor rusa sambar. Pada kunjungan 5 Juni 2026, seekor rusa sambar betina yang sebelumnya bunting telah ditemani anaknya. "Setelah stabil dan kondisi habitatnya (floranya) pulih, rusa akan dilepasliarkan kembali," imbuh Maidi.
Direktur PAMA, Abdul Nasir Maksum, menegaskan pengelolaan keanekaragaman hayati menuntut langkah bersama. "Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman hayati hanya dapat terwujud bila kita melangkah bersama, saling menguatkan, dan saling belajar," ujarnya.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut baik program tersebut. "Terima kasih kepada PAMA, yang mendukung penuh Wanagama ini untuk mendukung IKN sebagai forest city," ucap Basuki. Ia menilai kehadiran PAMA Eco-Edu Forest memperkuat ekosistem konservasi di kawasan IKN.
Pakar Strategi ESG, Jalal, mengingatkan tuntutan terhadap industri pertambangan tidak lagi hanya soal volume produksi mineral dan logam, tetapi juga cara produksinya. Ia merujuk riset PricewaterhouseCoopers (PwC) yang menunjukkan perbedaan performa finansial antara perusahaan yang serius menerapkan ESG dan yang tidak. "Jangan sampai menyelamatkan manusia dari perubahan iklim, tapi justru membahayakan keanekaragaman hayati," tegasnya.
Penutup: Di Cikepuh, konservasi berujung pada pelepasliaran; di IKN, dimulai dengan menyediakan ruang bagi satwa untuk berkembang biak sembari memulihkan habitat. Dua pendekatan berbeda dari grup yang sama menunjukkan konservasi keanekaragaman hayati menuntut proses panjang, kolaborasi multipihak, dan kesediaan menempatkan alam sebagai bagian dari perhitungan bisnis sejak awal.